Surat Al-Lahab? Bagaimana cerita dan kisah Abu Lahab sebenarnya? Siapa yang tak mengenal sosok ini. Ia adalah orang yang telah digariskan takdirnya masuk neraka walau kala itu kurang lebih masih sepuluh tahun sebelum meninggalnya. Ketetapan Tuhan atas nasibnya bukanlah tanpa sebab. Karena Allah swt. adalah zat yang Mahatahu yang tidak terikat oleh ruang dan waktu. Dia tahu bahwa bagaiamana sikap pembangkangan Abu jahal hingga sesaat sebelum kematiannya sekalipun, yang mana itu semua karena pilihannya sendiri. Sehingga bukan sesuatu yang tidak mungkin jika Allah swt. menggariskan takdirnya jauh sebelum ia meninggal.

Surat Al Lahab

Dan inilah ayat-ayat yang menegaskan kedudukannya kelak di akhirat (QS. Al-Lahab: 1-5) :

تبت يدا أبي لهب وتب – ما أغنى عنه ماله وما كسب – سيصلى نارا ذات لهب – وامرأته حمالة الحطب – في جيدها حبل من مسد (اللهب: ١-٥)

Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sesungguhnya dia akan binasa. Tidaklah berfaedah kepadanya harta bendanya dan apa yang ia usahakan. Kelak dia akan masuk ke dalam api yang bergejolak. Dan (begitu pula) istrinya, pembawa kayu bakar. Yang di lehernya ada tali dari sabut.

Demikianlah Allah mengutuk penentang keras Nabi dan umat Islam ini. Dan bahkan istrinya yang ikut membantu segala prilaku buruknya.

Profil

Nama sebenarnya dari Abu Lahab adalah Abdul Uzza ibn Abdul Muthalib ibn Hisyam ibn Abd Manaf. Jadi ia sendiri adalah anak dari Abdul Muthalib yang juga merupakan salah satu tokoh Quraisy.

Nama Uzza sendiri merupakan salah satu dari nama berhala yang disembah kaum Jahiliyah waktu itu. Selain itu ada juga Latta yang sering disebut-sebut oleh mereka saar bersumpah.

Adapun pemberian lakab Abu Jahal karena diambil dari ciri fisiknya yang mana wajahnya terlihat sangat putih. Namun, terkadang juga ia dipanggil dengan sebutan Abu Utbah, yang mana sesuai dengan nama dari salah satu putranya.

Dalam sejaranya, Abu Lahab merupakan salah satu dari 10 anak Abdul Muthalib yang diidam-idamkan saat melaksanakan tugas menggali ulang sumur sumber air zam-zam yang saat itu bersama dengan putranya.

Adapun ibunya, bernama Lubna bint Hajir ibn Abdul Manaf ibn Khathir.

Sebelum lanjut, baca juga kisah Abu Jahal

Dari banyak riwayat yang menceritakan tentangnya, ia dikenal sebagai orang yang bengis dan kasar. Hatinya keras dan sangat mudah marah. Pada ciri tubuhnya juga diketahui memiliki tubuh yang tinggi dan tegap serta bersuara nyaring. Dalam berbagai kisah juga diketahui bahwa ia sering kali melakukan tindakan yang buruk pada Rasulullah saw, baik itu fisik maupun verbal.

Kisah Abu Lahab dan Ceritanya

Banyak sekali buku yang telah menceritakan soal Abu Jahal, namun penulis kali ini memilih dari kitab Muwaaqif fi Hayaat al-Rasuul Nazalat fihaa Ayat Qur’aniyyah dan Qashash Islamiyyah Nazalat fi Ashaabina Ayat Qur’aniyyah yang disusun oleh Fathi Fawzi Abd Al-Mu’thi yang diterbitkan di Mesir yang selanjutnya diterjemahkan oleh Dedi Slamet Riyadi dan Khalifurrahman Fath dan diterbitkan oleh Penerbit Zaman.

Alasan memilih buku tersebut karena jalan ceritanya selalu diambil dari berbagai riwayat, khususnya hadis mengenai Asbabun Nuzul ayat Al-Qur’an, yang kemudian disusun dengan bahasa yang rapi dan enak dibaca. Nah berikut kisah lengkapnya:kisah abu lahab dalam surat al lahab

Berita kelahiran Muhammad …

Pagi itu bulan Rabiul Awal. Saat fajar baru saja menyingsing. Tak seperti hari-hari biasanya, Abu Lahab bangun agak pagi. Udara segar pagi hari yang berbaur dengan aroma wangi waktu itu membuatnya terbangun dan berusaha mencari dari mana sumber keharuman tersebut. Ternyata, dari budak perempuannya, Tsuwaibah.

Tak lama berselang, Tsuwaibah yang tak sabar memberikan berita gembira pada majikannya langsung berkata, “Tuan Abu Lahab, hari ini Nyonya Aminah telah melahirkan putranya. Bocah yang tampan, yang cahayanya menerangi sekitar.”

Karena ucapan sang budak tersebut, membuat majikannya, Abu Lahab, teramat senang. Dan karena tak mampu membendung rasa suka citanya tersebut maka seketika ia berkata pada Tsuwaibah, “Wahai Tsuwaibah, pergilah engkau. Mulai saat ini kamu merdeka.”

Sungguh keadaan yang berbeda dari apa yang diancamkan dalam surat al Lahab karena di moment ini ia menunjukkan kecintaannya yang mendalam pada calon Rasul Allah, Muhammad. Tapi, sayang seribu sayang, keadaan ini hanya berlangsung sampai ia mendengar ajakan Rasulullah untuk meninggalkan penyembahan berhala.

Tak mengira kejadian tersebut, Tsuwaibah lantas terheran-heran, tak menyangka majikannya yang terkenal kejam berbuat baik kepadanya. Hingga akhirnya, mulai saat itu ia pun menjadi orang yang merdeka layaknya orang lain. Ya, berkat lahirnya manusia Agung, Muhammad saw.

Kebiasaan menyembah berhala dan menenggak khamer

Sebagaimana pemuda Makkah lainnya, Abu lahab juga banyak bermain dan menikmati masa mudanya. Tapi walau begitu, ia juga orang yang taat beribadah pada tuhan berhalanya.

Ia kerap kali merawat tuhannya yang tuli dan tidak bisa berbuat apa-apa tersebut, mulai dari ujung kepala dan kaki berhala Latta dan Uzza ia bersihkan dengan teliti sebagai bentuk penghormatan anggapannya.

Terkadang pula, setelah merawt tuhannya yang hina tersebut, Abu Lahab pergi ke padang pasir untuk berburu binatang buas. Ia akan merasa sangat senang kalau bisa membawa hasil tangkapannya pulang.

Dan di sore hari, seperti kebiasaan pemuda Makkah kala itu, ia berkunjung ke kedai kakilima untuk bercengkrama bersama teman-temannya, sembari menenggak khamar untuk memuaskan nafsunya yang ia anggap bukan sebagai perbuatan buruk. Walu begitu, ayahnya, Abdul muthalib sering kali mengingatkannya untuk menghentikan kebiasaan buruknya tersebut. Tapi karena karakter Abu Jahal yang senang dengan kehidupan bebas membuatnya tak mau meninggalkan kebiasaan tersebut. Hingga akhirnya ayahnya membiarkan perbuatannya.

Walau dikenal sebagai orang yang keras dan suka kehidupan bebas, sikap kesetiaan dan penyembahannya pada berhala tak pernah redup sedikit pun. Bahkan, setelah menikah dengan Ummu Jamil bertambah kuatlah sikap fanatiknya pada berhala.

Singkat cerita, setelah beberapa lama mengarungi bahtera rumah tangga, akhirnya Abu Jahal dikaruniai dua putra, yakni Mu’tab dan Utbah, yang kemudian tumbuh pula menjadi remaja. Dan dikeluarga lain, keponakannya, Muhammad yang dulu dielu-elukan kelahirannya juga sudah berkeluarga dan melahirkan anak perempuan dari pernikahannya dengan Khadijah ra. Anak beliau, Ruqayyah dan Ummu Kaltsum, juga sudah tumbuh menjadi dewasa.

Dan karena menurut Abu Lahab, Muhammad adalah seorang teladan, sedang istrinya Khadijah sebagai seorang wanita terhormat yang kaya, hingga akhirnya ia memutuskan untuk melamar dua putri Muhammad sekaligus untuk dua anak laki-lakinya tadi. Dan kebetulan, Muhammad tak keberatan sehingga terjadilah perkawinan tersebut yang mana semakin mengakbrabkan hubungan antara Nabi Muhammda dan Abu Lahab, yakni selain sebagai keponakan juga sebagai besan.

(dalam Thabaqat ibn Sa’d, jilid X, halaman 36-38 disebutkan bahwa hubungan antara Anak Abu Lahab dan Nabi bukanlah pernikahan tapi hanya sekedar pertunangan semata. Dan juga, Utbah dan Mu’tab tak sejahat ayahnya, bahkan keduanya masuk Islam dan ikut dalam perang Hunain membela Islam)

Awal mula permusuhan Abu Jahal kepada Muhammad

Setelah Muhammad diangkat sebagai Rasul Allah swt. yang mana dalam hal ini Jibril as. yang menjadi perantara pengembanan tugas berat tersebut. Beliau ditugaskan untuk menyeru pada umat sekalian agar masuk Islam dan menghentikan penyembahan pada berhala dan segala yang mempersekutukan Allah swt.

Namun, karena merasa beratnya tugas yang diberikan kepada Nabi, lantas beliau berpikir keras bagaimana cara menyampaikan amanah tersebut pada kaumnya yang sudah sejak lama mejadikan berhala sebagai tuhan mereka. Dan karena itu, Nabi akhirnya lama tidak keluar dari rumahnya.

Heran dengan kebiasaan baru Nabi, Shafiyyah yang juga anak dari Abdul Muthalib yang merupakan bibi Rasulullah akhirnya mendatanginya dan menanyakan prihal keadaannya. Dan saat ditanya, Nabi pun berkata: “Tidak apa-apa . Aku hanya diberi perintah oleh Allah untuk memberi peringatan kepada kerabat dekatku.”

Dalam cerita Abu Lahab ini disebutkan, lantas Shafiyyah berkata, “Sampaikan pada kerabatmu apa yang dipertintahkan Tuhan kepadamu. Tetapi jangan sampaikan kepada Abu Lahab. Sebab, alih-alih mengindahkanmu, ia malah akan mendustakanmu.”

Akhirnya, para kerabat Nabi saw. pun diundang. Waktu itu, sekitar 45 orang yang datang, termasuk di dalamnya Abu Lahab. Dan sebagai strategi, Rasulullah waktu itu menyiapkan jamuan makan. Dan barulah setelah semua selesai menyantap makanannya, Rasulullah kemudian menyampaikan maksudnya yang intinya memberitahukan bahwa ia telah diutus oleh Allah untuk menjadi Nabi dan Rasul dan juga menyampaikan bahwa kelak manusia akan dibangkitkan dan dihisab amalnya.

Setelah mengutarakan maksud beliau, lantas pamanya, Abu Thalib berkata, “Laksanakanlah apa yang Allah perintahkan kepadamu. Aku akan selalu mendukung dan menjagamu. Akan tetapi, aku tidak bisa meninggalkan agama Abdul Muthalib.” Ali pun berucap, “Aku akan selalu membantumu. Aku akan memerangi siapa saja yang memerangimu.”

Namun, dalam kisah Abu Lahab ini, bagaimana sikap yang diambil oleh paman Nabi tersebut? Apakah langsung menerima ajakan Nabi? Ternyata, seperti dugaan Shafiyyah sebelumnya. Walau ia belum menunjukkan kemarahannya, ia sudah terang-terangan mengaku tidak percaya dan menolak ajakan Rasulullah.

Di suatu pagi yang mengejutkan…

Waktu itu masih pagi, dalam cerita abu Lahab ini, Muhammad yang sudah resmi diangkat sebagai Rasul naik ke atas bukit Shafa, kemudian berkata, “Wahai sekalian kamu Quraisy…!”

Karena begitu besarnya suara Nabi waktu itu, maka orang-orang yang sedang tawaf atau pun sai di Masjidil Haram mendengar suaranya dan menengok ke arahnya. Mereka yang ada di sana waktu itu telah mengenal baik sikap bijaksana Muhammad, terutama saat peristiwa pemindahan Hajar Aswad yang berakhir dengan kedamaian.

Tak lama kemudian, orang-orang mulai berkumpul karena mendengar seruan beliau. Dan barulah Rasulullah saw. bersabda, “Wahai kaum Quraisy, percayakah kalian jika kukatakan bahwa di bawah bukit ini ada unta?” Mereka menjawab, “Ya, Muhammad, karena kami belum pernah mendengarmu berbohong.”

Nabi lantas melanjutkan seruannya, “Sesungguhnya aku ingin memberi peringatan kepada kalian, Wahai Bani Abdul Muthalib, dst…. bahwa Allah memerintakanku untuk mengajak kalian bersaksi: “Tiada Tuhan selain Allah.”

Tiba-tiba suara kecil yang riuh terdengar di kerumunan orang tersebut karena mereka semua saling berbicara dengan suara kecil, sebagian menerima dan sebagian lagi mengingkari. Akan tetapi, tiba-tiba suara mereka langsung terhenti ketika mendengar suara dari Abu Lahab yang berkata, “Celakalah engkau, wahai Muhammad. (hanya) untuk inikah engkau mengumpulkan kami?”

Sejak saat itulah, permusuhan yang digaungkan oleh kaum Quraisy terhadap Rasulullah dimulai. Dan jadilah hubungan antara Abu Lahab selaku paman, dengan Nabi selaku keponakannya yang dulu membuatnya begitu bergembira mengetahui kelahirannya, menjadi terpisah jauh dikarenakan keimanan yang sudah berbeda, yakni Musyrik dan Muslim. Ditambah lagi, istri si pembangkang tersebut, Ummu Jamil, sebagaimana disebutkan dalam Surat Al-Lahab, juga ikut membantunya.

Hari demi hari pun berlalu. Sikap Abu Jahal, istrinya, dan Abu Sufyan tak hentinya menyakiti Rasulullah, mulai dari mencaci maki hingga melemparkan kotoran di jalan yang dilewati Rasulullah saw. Bahkan ketika mereka tau Allah swt. menurunkan ayat ancaman bahwa mereka akan dimasukkan ke dalam neraka, terutama pada Ummu Jamil, dendamnya pun semakin menjadi-jadi. Ummu Jamil bahkan sampai memerintahkan kedua anaknya untuk menjauhi putri Muhammad yang telah menjadi tunangannya.

Nasib Abu Lahab setelah perang badar

Tak lama berselang, setelah Rasulullah hijrah ke Yastrib (sekarang Madinah), terjadilah perang Badar. Namun, Abu Lahab sendiri, waktu itu ia tak bisa ikut perang melawan kaum Muslimin, bisa jadi karena fisiknya tidak kuat, atau mungkin mengkhawatirkan keselamatan dirinya.

Karena ia memilih tinggal di Makkah bukan berarti ia tidak berbuat apa-apa. Ia lantas mengutus Al-Ash ibn Hisyam untuk mewakilinya. Abu Lahab yang sangat menginginkan keberhasilannya menyediakan kuda terbaik untuknya dan juga perlengkapan perang lainnya, termasuk pedang dan perbekalan. Dan apa yang dilakukannya ini diabadikan dalam salah satu ayat Al-Qur’an, yakni pada surah Al-Anfal: 36.

Alhasil, perang Badar dimenangkan oleh umat Muslim. Berkat pertolongan Allah, orang-orang kafir akhirnya pulang dengan kegagalan.

Lalu apa yang terjadi dengan Abu Lahab setelah mendengar kekalahan kaumnya tersebut? Sikap pemarahnya membuatnya geram. Ia bahkan tampak sangat sedih dengan kekalahan telat tersebut. Belum lagi banyak dari pasukan kafir Quraisy yang terbunuh dan terluka, di antaranya Aqabah ibn Abi Mu’ith dan Umayyah ibn Khalaf. Selain itu, sebagian lagi banyak yang ditawan dan tak akan dilepaskan hingga mereka membayar fidyah sebagai gantinya. Semua keadaan tersebut menunjukkan betapa semakin kuatnya kaum Muslimin waktu itu, sedangkan kaum kafir Quraisy merasa ‘diinjak-injak’ dengan kekalahan tersebut. Itulah mengapa dalam cerita abu Lahab ini, ia merasa sangat sedih.

Kesedihan dan amarah Abu Lahab teramat dalam atas peristiwa kekalahan dalam Perang Badar tersebut. Taka da suasana yang dapat menenangkan hatinya dari penderitaan tersebut. Amarah tersebut terus ia pendam dalam hatinya.

Lama-kelamaan, penyakit hati Abu Lahab berbuah penyakit fisik yang parah. Tubuhnya ditumbuhi banyak bisul. Ia bahkan tak bisa bangun dari tidurnya akibat penyakit yang dideritanya. Dan karena keadaan tersebut, kedua anak dan orang-orang yang sebelumnya mendukungnya menjadi menjauhinya karena takut ketularan.

Hari demi hari berlalu, penyakit Abu Lahab tak kunjung sembuh, bahkan semakin parah. Mengapa tidak? Tak ada seorang pun yang mau mengobatinya. Jangankan mengobati, mendekatinya saja mereka tidak mau. Tak lama kemudian, tubuhnya semakin kurus, napasnya tak lagi sempurna. Akhirnya, musah Allah tersebut meninggal sebelum sempat menyadari perbuatannya.

Sungguh tragis kisah Abu Jahal ini. Karena Utbah dan Mu’tab tak berani mendekatinya, mereka pun membiarkan jasadnya membusuk hingga tiga hari di pembaringan terakhirnya di rumah. Bahkan ketika dimandikan, anakanya hanya mengguyurnya dengan air dari kejauhan. Sungguh, janji Allah swt. dalam surat Al Lahab sudah terlihat walau ia belum masuk neraka.

Adapun ketika ia hendak dimakamkan, karena anaknya tak bisa menggali kubur, akhirnya jasad Abu Lahab dikubur dengan cara dilempari batu hingga tertimbun.

Itulah akhir kisah Abu Lahab. Janji Allah swt. dalam surat Al Lahab kini menantinya. Dan sebelum hari yang ditunggu tiba ia juga akan merasakan beratnya siksa kubur. Nauzu billah min dzalik!

About The Author

Comments

  1. Infopariwisata

    Semoga kita dihindarkan dari perilaku seperti Abu Lahab dan istrinya, dan semoga kita senantiasa berada di jalan yang benar. Aamiin. Sangat bagus artikelnya caraspot :-)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *