Yuk kita simak Pandangan Islam soal Menyusui Anak dengan ASI dan Waktu Menyapihnya! Menyapih anak bukanlah urusan biasa karena hal ini ada kaitannya dengan asupan ASI pada bayi, sedang ASI sendiri merupakan makanan paling penting pada proses pertumbuhan seorang anak manusia, dan bahkan anak yang tidak diberi asi sewaktu kecilnya akan sangat berpengaruh pada kesehatan dan kepribadiannya kelak jika ia dewasa. Dan bila kesehatan dan kepribadian seseorang bermasalah, maka bukan cuma mempengaruhi kedidupannya di dunia, tapi juga di akhirat kelak. Itulah sebabnya mengapa Al-Qur’an bahkan sampai menyebutkan persoalan ini lebih dari satu kali. Dan Anda juga pasti tau bahwa perkara apa saja yang disebutkan oleh Al-Qur’an maka sudah pasti hal tersebut merupakan perkara penting dan tidak bisa diabaikan.

Ada banyak sekali permasalah yang sering dipertanyakan ibu soal waktu menyapih anak, mulai dari waktu terbaiknya, kapan sebaiknya dihentikan, bila kurang apa akibatnya dan bila lebih dari yang digariskan oleh Al-Qur’an apakah boleh dan apa saja efeknya. Nah, ini semua akan kita kupas tuntas di sini, tapi etss.. bukan asal nulis karena semua di dasari oleh dalil Al-Qur’an dan Hadis nabi yang sahih yang dikutip langsung dari salah satu software hadis ternama di Indonesia, yakni Lidwa. Berikut penjelasannya:

Apa Saja Pandangan Islam soal Menyusui Anak dan Waktu Menyapih Anak

Perlu diketahui bahwa dalam mencari hukum suatu perkara maka yang paling utama dijadikan rujukan adalah Al-Qur’an, dan baru setelah tidak ditemukan dasarnya dalam Al-Qur’an maka selanjutnya mencari dalam hadis Nabi, terutama dalam Kitab 9 Hadis yang masyhur. Dan bila juga tak ditemukan maka selanjutnya didasarkan pada pendapat jumhur ulama dan Qiyas. Asalkan jangan menebak sendiri karena sudah pasti kemungkinan salahnya lebih besar.

1. Dalil Al-Qur’an

Al-Baqarah ayat 233

وَٱلۡوَٲلِدَٲتُ يُرۡضِعۡنَ أَوۡلَـٰدَهُنَّ حَوۡلَيۡنِ كَامِلَيۡنِ‌ۖ لِمَنۡ أَرَادَ أَن يُتِمَّ ٱلرَّضَاعَةَ‌ۚ وَعَلَى ٱلۡمَوۡلُودِ لَهُ ۥ رِزۡقُهُنَّ وَكِسۡوَتُہُنَّ بِٱلۡمَعۡرُوفِ‌ۚ لَا تُكَلَّفُ نَفۡسٌ إِلَّا وُسۡعَهَا‌ۚ لَا تُضَآرَّ وَٲلِدَةُۢ بِوَلَدِهَا وَلَا مَوۡلُودٌ۬ لَّهُ ۥ بِوَلَدِهِۦ‌ۚ وَعَلَى ٱلۡوَارِثِ مِثۡلُ ذَٲلِكَ‌ۗ فَإِنۡ أَرَادَا فِصَالاً عَن تَرَاضٍ۬ مِّنۡہُمَا وَتَشَاوُرٍ۬ فَلَا جُنَاحَ عَلَيۡہِمَا‌ۗ وَإِنۡ أَرَدتُّمۡ أَن تَسۡتَرۡضِعُوٓاْ أَوۡلَـٰدَكُمۡ فَلَا جُنَاحَ عَلَيۡكُمۡ إِذَا سَلَّمۡتُم مَّآ ءَاتَيۡتُم بِٱلۡمَعۡرُوفِ‌ۗ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَٱعۡلَمُوٓاْ أَنَّ ٱللَّهَ بِمَا تَعۡمَلُونَ بَصِيرٌ۬ (البقرة: ٢٣٣)

“Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara ma’ruf (baik). Seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya. Janganlah seorang ibu menderita kesengsaraan karena anaknya dan seorang ayah karena anaknya, dan warispun berkewajiban demikian. Apabila keduanya ingin menyapih (sebelum dua tahun) dengan kerelaan keduanya dan permusyawaratan, maka tidak ada dosa atas keduanya. Dan jika kamu ingin anakmu disusukan oleh orang lain, maka tidak ada dosa bagimu apabila kamu memberikan pembayaran menurut yang patut. Bertakwalah kamu kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” (2:233)

Al-Ahqaf ayat 15

وَوَصَّيۡنَا ٱلۡإِنسَـٰنَ بِوَٲلِدَيۡهِ إِحۡسَـٰنًا‌ۖ حَمَلَتۡهُ أُمُّهُ ۥ كُرۡهً۬ا وَوَضَعَتۡهُ كُرۡهً۬ا‌ۖ وَحَمۡلُهُ ۥ وَفِصَـٰلُهُ ۥ ثَلَـٰثُونَ شَہۡرًا‌ۚ حَتَّىٰٓ إِذَا بَلَغَ أَشُدَّهُ ۥ وَبَلَغَ أَرۡبَعِينَ سَنَةً۬ قَالَ رَبِّ أَوۡزِعۡنِىٓ أَنۡ أَشۡكُرَ نِعۡمَتَكَ ٱلَّتِىٓ أَنۡعَمۡتَ عَلَىَّ وَعَلَىٰ وَٲلِدَىَّ وَأَنۡ أَعۡمَلَ صَـٰلِحً۬ا تَرۡضَٮٰهُ وَأَصۡلِحۡ لِى فِى ذُرِّيَّتِىٓ‌ۖ إِنِّى تُبۡتُ إِلَيۡكَ وَإِنِّى مِنَ ٱلۡمُسۡلِمِينَ

“Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdo’a: “Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri ni’mat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri.” (46:15)

Luqman ayat 14

وَوَصَّيۡنَا ٱلۡإِنسَـٰنَ بِوَٲلِدَيۡهِ حَمَلَتۡهُ أُمُّهُ ۥ وَهۡنًا عَلَىٰ وَهۡنٍ۬ وَفِصَـٰلُهُ ۥ فِى عَامَيۡنِ أَنِ ٱشۡڪُرۡ لِى وَلِوَٲلِدَيۡكَ إِلَىَّ ٱلۡمَصِيرُ

Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepadaKu dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.

Catatan: “…menyapihnya dalam dua tahun” maksudnya selambat-lambat waktu menyapih adalah setelah anak berumur dua tahun. (menurut salah satu catatan terjemahan Al-Qur’an)

Sebelum ini, simak dulu : Makanan untuk Tips Cepat Hamil

Kapan waktu terbaik menyapih anak?

Dalam Al-Qur’an sendiri kita mendapati beberapa dalil mengenai waktu menyusui ini. Sebagaimana disebutkan: “Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi (ibu) yang ingin menyempurnakan penyusuan…” (QS. Al-Baqarah ayat 233). Dari penggalan ayat ini dapat kita pahami bahwa waktu terbaik menyapih anak adalah setelah ia menyusui selama 2 tahun atau 24 bulan. Selain itu bila merujuk pada ayat kedua di atas yang menyebutkan “…Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan” Para ulama menyimpulkan berdasarkan penggalan ayat tersebut, bahwa masa mengandung seorang ibu hingga masa menyapihnya anak adalah 30 bulan, dengan perhitungan masa hamil yang paling cepat adalah 6 bulan, sehingga masa menyusui menjadi dua tahun penuh (6 + 24 = 30), atau masa hamil 9 bulan dan masa menyusui dua puluh satu bulan. Apabila masa kehamilan normal 9 bulan ditambah menyusui penuh selama 24 bulan maka totalnya adalah 33 bulan, waktu ini adalah waktu yang cukup sempurna dalam memberikan asupan makanan pada bayi yang belum bisa mencari makanannya sendiri. Kesimpulannya adalah bahwa waktu terbaik menyapih anak adalah setelah 2 tahun menyusui, namun tidak ada larangan jika kurang atau lebih.kapan waktu menyapih anak

Apakah boleh menyapih anak kurang dari 2 tahun?

Nah, timbul pertanyaan, bagaimana jika kurang dari itu? Jawabannya masih dalam ayat yang sama, yakni “…Apabila keduanya ingin menyapih (sebelum dua tahun) dengan kerelaan keduanya dan permusyawaratan, maka tidak ada dosa atas keduanya” Maksudnya adalah tidak ada larangan jika sang anak disapih kurang dari 2 tahun, selama antara ibu dan bapaknya sama-sama rela dan tidak menimbulkan perselisihan yang dapat merusak rumah tangga. Dan bahkan bisa jadi hukumnya wajib jika si ibu terus menyusui dapat menyebabkan sakit atau kematian baginya. Salah dalil dalan hadis Nabi mengenai ini adalah:

عَنْ فَاطِمَةَ بِنْتِ الْحُسَيْنِ عَنْ أَبِيهَا الْحُسَيْنِ بْنِ عَلِيٍّ قَالَ : لَمَّا تُوُفِّيَ الْقَاسِمُ ابْنُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَتْ خَدِيجَةُ يَا رَسُولَ اللَّهِ دَرَّتْ لُبَيْنَةُ الْقَاسِمِ فَلَوْ كَانَ اللَّهُ أَبْقَاهُ حَتَّى يَسْتَكْمِلَ رِضَاعَهُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ إِتْمَامَ رَضَاعِهِ فِي الْجَنَّةِ (رواه ابن ماجه)

dari Fatimah binti Al Husain dari bapaknya Al Husain bin Ali ia berkata, “Tatkala Al Qasim putra Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam wafat, Khadijah berkata, “Wahai Rasulullah, air susu Al Qasim melimpah, sekiranya saja Allah memberinya kehidupan hingga tuntas penyusuannya. ” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam lalu menjawab: “Sungguh penyusuannya akan disempurnakan di surga. ” (HR. Ibnu Majah – Kitab : Jenazah, Bab : Menshalati putera Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, No. Hadist : 1501 – berdasarkan software hadis Lidwa)

Dalam hadis lain yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad disebutkan : “”Sesungguhnya di dalam surga sudah ada yang akan menyempurnakan penyusuannya, dan ia termasuk Shiddiq (jujur).” (HR. Ahmad – Kitab : Musnad penduduk Kufah, Bab : Hadits Al Barra` bin ‘Azib Radliyallahu ta’ala ‘anhu, No. Hadist : 17766 – berdasarkan software hadis Lidwa)

Jadi tak perlu merasa bersalah jika anak sampai harus disapih kurang dari 2 tahun karena kondisi tertentu, karena toh Nabi sudah memberikan pejelasannya dari hadis di atas.

Baca juga : Tanda-tanda Kehamilan / Ciri-Ciri Orang Hamil

Bagaimana bila lebih dari dua tahun? Sebaiknya hindari. Ini alasannya:

Dalam ketiga ayat di atas sama sekali tidak ada yang menyebutkan larangan jika menyusui anak di atas 2 tahun, namun karena Allah swt. telah menyebutkan angka pastinya waktu menyapih anak maka sudah pasti hal tersebut punya alasan kuat, baik itu pada dampak kesehatan dan kepribadian anak serta kesehatan payudara ibu itu sendiri. Jika demikian halnya, maka menyusui lebih dari 2 tahun tidak ada anjurannya dan juga tidak ada larangannya. Namun, beberapa literatur menyebutkan efek samping jika ASI terus diberikan pada anak di atas usia 2 tahun, di antaranya:

  1. Tanyadok.com : Disebutkan dalam penjelasan salah satu artikelnya bahwa ASI pada ibu yang menyusui yang sudah lebih dari 2 tahun sudah tidak mengandung kalori dan gizi yang cukup lagi untuk dikomsumsi buat anak. Selain itu, di masa seperti itu, dalma kondisi tertentu, biasanya produksi ASI dari payudara juga sudah semakin menurun dan hanya akan membuat si ibu menjadi sakit bila terus diisap oleh anaknya sedang ASI yang keluar sangat sedikit. Dan jika dikaitkan pada masalah kepribadian maka si anak akan menjadi kurang mandiri dan manja karena selalu tergantung pada ibunya. Selain itu, ia juga akan terlambat dan sulit bersosialisasi dengan anak seusianya, karena pada anak lain sudah mulai bebas bermain dengan yang lainnya, dia malah masih terus digendong dan dimanja ibunya.
  2. Viva.co.id : Penulis bernama Benjamin Chaffee dari University of California berdasarkan hasil penelitiannya menyebutkan bahwa anak yang disusui lebih dari 2 tahun akan beresiko tinggi mengalami kerusakan pada gigi susu dan rongga mulutnya.
  3. Merdeka.com : Sebagaimana diungkapkan oleh William Bowen, peneliti Center for Oral Biology at the University of Rochester Medical Center di New York, bahwa mulut dan gigi bayi yang menempel dalam waktu lama pada puting susu ibunya akan mengakibatkan terhalangnya produksi air liur yang mana dari kondisi tersebut dapat mengakibatkan terjadinya kerusakan gigi, termasuk gigi berlubang, karena air liur yang berfungsi menghilangkan bakteri pada gigi tidak bisa diproduksi dengan baik.
  4. Lanjutkan baca : Arti Mimpi Hamil Menurut Primbon dan Ajaran Agama Islam (Tafsir Mimpi Mengandung)

Bagaimana cara menyapih anak?

(Kami sudah menulis ulasan ini di sini : , silahkan ikuti tautannya dan baca lengkap cara-caranya karena semua banyak dilakukan berdasarkan pengalaman penulis sendiri.

Dalil dari Hadis Nabi

Beberapa hadis di bawah di ambil langsung dari software hadis 9 Kitab Hadis Mayshur, yakni Lidwa. Sebagian besar menjelaskan begitu pentingnya menyusui anak.

1. Dapat menunda pelaksanaan hukuman pada ibunya.

Pada hadis di bawah menceritakan kisah seorang wanita yang telah berzina dan memberikan pengakuan pada Nabi, namun karena ia masih dalam keadaan hamil waktu itu, maka Nabi memerintahkannya untuk menunggu hingga ia melahirkan, dan setelah melahirkan dan datang pada beliau, ia lantas diminta lagi menunggu hingga ia selesai menyusui dan menyapih anaknya. Dari sini kita bisa melihat bahwa begitu mulianya ajaran Islam, bahkan pada orang bersalah sekalipun.

قَالَ فَجَاءَتْ الْغَامِدِيَّةُ فَقَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّي قَدْ زَنَيْتُ فَطَهِّرْنِي وَإِنَّهُ رَدَّهَا فَلَمَّا كَانَ الْغَدُ قَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ لِمَ تَرُدُّنِي لَعَلَّكَ أَنْ تَرُدَّنِي كَمَا رَدَدْتَ مَاعِزًا فَوَاللَّهِ إِنِّي لَحُبْلَى قَالَ إِمَّا لَا فَاذْهَبِي حَتَّى تَلِدِي فَلَمَّا وَلَدَتْ أَتَتْهُ بِالصَّبِيِّ فِي خِرْقَةٍ قَالَتْ هَذَا قَدْ وَلَدْتُهُ قَالَ اذْهَبِي فَأَرْضِعِيهِ حَتَّى تَفْطِمِيهِ فَلَمَّا فَطَمَتْهُ أَتَتْهُ بِالصَّبِيِّ فِي يَدِهِ كِسْرَةُ خُبْزٍ فَقَالَتْ هَذَا يَا نَبِيَّ اللَّهِ قَدْ فَطَمْتُهُ وَقَدْ أَكَلَ الطَّعَامَ فَدَفَعَ الصَّبِيَّ إِلَى رَجُلٍ مِنْ الْمُسْلِمِينَ ثُمَّ أَمَرَ بِهَا فَحُفِرَ لَهَا إِلَى صَدْرِهَا وَأَمَرَ النَّاسَ فَرَجَمُوهَا فَيُقْبِلُ خَالِدُ بْنُ الْوَلِيدِ بِحَجَرٍ فَرَمَى رَأْسَهَا فَتَنَضَّحَ الدَّمُ عَلَى وَجْهِ خَالِدٍ فَسَبَّهَا فَسَمِعَ نَبِيُّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَبَّهُ إِيَّاهَا فَقَالَ مَهْلًا يَا خَالِدُ فَوَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَقَدْ تَابَتْ تَوْبَةً لَوْ تَابَهَا صَاحِبُ مَكْسٍ لَغُفِرَ لَهُ ثُمَّ أَمَرَ بِهَا فَصَلَّى عَلَيْهَا وَدُفِنَتْ (رواه مسلم)

“… Buraidah melanjutkan, “Suatu ketika ada seorang wanita Ghamidiyah datang menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam seraya berkata, “Wahai Rasulullah, diriku telah berzina, oleh karena itu sucikanlah diriku.” Tetapi untuk pertama kalinya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak menghiraukan bahkan menolak pengakuan wanita tersebut. Keesokan harinya wanita tersebut datang menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sambil berkata, “Wahai Rasulullah, kenapa anda menolak pengakuanku? Sepertinya anda menolak pengakuan aku sebagaimana pengakuan Ma’iz. Demi Allah, sekarang ini aku sedang mengandung bayi dari hasil hubungan gelap itu.” Mendengar pengakuan itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sekiranya kamu ingin tetap bertaubat, maka pulanglah sampai kamu melahirkan.” Setelah melahirkan, wanita itu datang lagi kepada beliau sambil menggendong bayinya yang dibungkus dengan kain, dia berkata, “Inilah bayi yang telah aku lahirkan.” Beliau lalu bersabda: “Kembali dan susuilah bayimu sampai kamu menyapihnya.” Setelah mamasuki masa sapihannya, wanita itu datang lagi dengan membawa bayinya, sementara di tangan bayi tersebut ada sekerat roti, lalu wanita itu berkata, “Wahai Nabi Allah, bayi kecil ini telah aku sapih, dan dia sudah dapat menikmati makanannya sendiri.” Kemudian beliau memberikan bayi tersebut kepada laki-laki muslim, dan memerintahkan untuk melaksanakan hukuman rajam. Akhirnya wanita itu ditanam dalam tanah hingga sebatas dada. Setelah itu beliau memerintahkan orang-orang supaya melemparinya dengan batu. Sementara itu, Khalid bin Walid ikut serta melempari kepala wanita tersebut dengan batu, tiba-tiba percikan darahnya mengenai wajah Khalid, seketika itu dia mencaci maki wanita tersebut. Ketika mendengar makian Khalid, Nabi Allah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tenangkanlah dirimu wahai Khalid, demi dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sesungguhnya perempuan itu telah benar-benar bertaubat, sekiranya taubat (seperti) itu dilakukan oleh seorang pelaku dosa besar niscaya dosanya akan diampuni.” Setelah itu beliau memerintahkan untuk menshalati jenazahnya dan menguburkannya.” (HR. Muslim – Kitab Hudud, Bab : Orang yang mengakui perzinaannya, No. Hadist : 3208 – menurut software hadis Lidwa)

2. Menyusui karena anak karena alasan lapar

Jika dikatakan bahwa kadar gizi dan kalori pada ASI di atas 2 tahun sudah sangat sedikit, sebagaimana disebut di atas, maka itu artinya ia tidak lagi bisa dikatakan sebagai makanan baginya dan tidak bisa lagi dijadikan sebagai penghilang lapar, melainkan hanya seperti air yang menghilangkan rasa haus. Hadis yang berkaitan mengenai ini adalah:

فَإِنَّ الرَّضَاعَةَ مِنْ الْمَجَاعَةِ (رواه ابن ماجه)

Karena penyusuan itu karena sebab lapar.” (HR. Ibnu Majah – Kitab : Jenazah, Bab : Menshalati putera Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, No. Hadist : 1935 – berdasarkan software hadis Lidwa)

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الزُّبَيْرِ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا رَضَاعَ إِلَّا مَا فَتَقَ الْأَمْعَاءَ

dari Abdullah bin Az Zubair bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Bukan termasuk penyusuan kecuali yang mengenyangkan.” (HR. Ibnu Majah – Kitab : Jenazah, Bab : Menshalati putera Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, No. Hadist : 1936 – berdasarkan software hadis Lidwa)

Hadis lain soal penyusuan yang tidak berkaitan.

عَنْ يَحْيَى بْنِ سَعِيدٍ أَنَّهُ قَالَ سَمِعْتُ سَعِيدَ بْنَ الْمُسَيَّبِ يَقُولُ : لَا رَضَاعَةَ إِلَّا مَا كَانَ فِي الْمَهْدِ وَإِلَّا مَا أَنْبَتَ اللَّحْمَ وَالدَّمَ

dari Yahya bin Sa’id ia berkata; Aku mendengar Sa’id bin Musayyab berkata; “Tidak berlaku hukum penyusuan kecuali pada bayi yang masih dalam gendongan. Jika tidak, maka apa yang akan menumbuhkan darah dan daging.” (HR. Imam Malik – Kitab Penyusuan, Bab : Menyusui anak kecil, No. Hadist : 1111 – berdasarkan software hadis Lidwa)

Setelah menyesui anda pasti butuh diet karena berat badan yang berlebih. Untuk itu jangan lewatkan Cara Diet Mayo yang benar yang merupakan cara Diet Terbaik yang pernah ada.

Demikian ulasan panjang soal Pandangan Islam soal Menyusui Anak dan Waktu Menyapihnya, selebihnya tinggal bagaimana anda memahami penjelasan di atas. Jika memang merasa bahwa anjuran Allah adalah seperti peprintah bagi Anda maka usia 2 tahun adalah waktu menyapih anak yang paling tepat , tapi bila seandainya terhalang oleh sutuasi sehingga harus kurang atau lebih dari itu maka tak usah dipermasalahkan karena toh tidak ada anjuran dan juga larangan di luar dari ketentuan 2 tahun tersebut.

About The Author

Comments

  1. etikaseorangmuslim.com

    Subhanallah, bagus sekali artikel ini, Terima Kasih ukh/akh :)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *