Bagaimana cara mengganti puasa Ramadhan atau mengqadha’ puasa yang telah ditinggalkan atau ada juga yang bertanya bagaimana membayar utang puasa yang telah lalu di bulan Ramadan sebelumnya? Bagi yang merasa pernah tidak menunaikannya maka ini adalah pertanyaan penting untuk diketahui jawabannya karena yang namanya kewajiban tidak akan lunas selama kita memenuhinya, apakah itu dengan membayar fidyah atau pun dengan menggantinya dengan puasa di hari lain. Tapi mengenai ini juga ada beberapa pendapat kuat yang wajib kita ketahui agar apa yang kita lakukan tidak hanya sebatas menerka saja melainkan di dasarkan atas dalil Al-Qur’an dan Al-Hadis. Selain itu, penjelasan ulama mengenai Qadha puasa ini juga sangat penting karena kita bisa tahu apa alasan pasti dilakukannnya ini dan juga bagaimana soal tatacaranya yang merupakan bagian penting dari ibadah ini.

Mengganti atau meng-qadha puasa yang telah ditinggalkan pada Ramadhan sebelumnya berarti membayar kewajiban yang pernah ditinggalkan. Oleh karena itu, walau sebenarnya yang dilakukan tidak bisa menyamai pahala dengan orang yang melakukannya dalam bulan suci tersebut tapi paling tidak bisa menggugurkan kewajiban yang seharusnya dilakukan oleh seorang Muslim yang sudah tergolong Mukallaf. Dalam mengulas persoalan seperti ini maka mungkin dari masing-masing pembaca punya pertanyaan tersendiri, mulai dari bagaimana jika telah ditinggalkan beberapa tahun lalu dan baru ingat sekarang, apakah harus berurutan dilakukan setiap hari atau bisa dengan cara dicicil dan harinya tidak bersambung, bisakah dilakukan di bulan syawal setelah ramadhan dan apakah telah sama dengan melakukan puasa syawal? semua pertanyaan ini bisa dijawab hanya dengan melandaskan atas pendapat ulama dan ulasan dari para ahlinya yang tentunya akan kita tampilkan semua di sini.

Cara Mengganti Puasa Ramadhan – Cara Mengqadha Puasa yang Telah Ditinggalkan

cara mengganti puasa dengan qadha dan fidyahUlasan lengkap di bawah ini kami buat dalam bentuk penjelasan per sub judul agar memudahkan pembaca menemukan semua pertanyaan dan persoalan mengenai mengganti puasa ini. Dan untuk melengkapi setiap penjelasannya akan disertakan dalil, baik berupa ayat al-Qur’an, hadis Nabi saw. yang sahih, pendapat dari Jumhur Ulama, dan juga rincian dari berbagai buku dari ulama kontemporer yang membahas ini dan persoalan baru yang terjadi dewasa ini. Namun itu semua selama ditemukan dalam referensi dan bila tidak maka penulis berusaha menyajikan dengan argumen yang didasarkan pada ilmu yang penulis dapat selama belajar di pendidikan Islam.

Pengertian ‘Qadha’ Puasa

Secara bahasa kata Qada’ atau Qadha berarti ‘melaksanakan atau memenuhi’ entah itu kewajiban atau amalan sunnah. Dan adapun pengertian menurut istilah adalah sebuah ibadah yang dilakukan diluar dari waktu yang telah ditentukan menurut aturan syar’i karena adanya uzur, misalnya saja pada puasa yang kita bahas sekarang ini yang mana pelaksanaannya dilakukan diluar bulan Ramadhan dikarenakan adanya halangan untuk melakukannnya tepat waktu.

Namun berbeda dengan pendapat para ahli lainnya, dalam hal ini ahli bahasa Arab, mereka mengungkapkan bahwa kata Qadha’ yang banyak diartikan mengganti puasa ramadhan oleh banyak orang lebih tepat diartikan sebagai adaa’ atau adaaan’ yaitu menunaikan suatu ibadah berdasarkan waktunya sebagaimana disyariatkan dalam agama Islam. Tapi pada kenyataannya makna yang pertama jauh lebih banyak digunakan orang dan bahkan para penulis yang menyusun buku agama juga beranggapan sama. Yang jelas pembahasan kita di sini fokus pada cara pelaksanaannya dan bukan hanya pada tataran bahasanya saja.

Sebelumnya, baca : Hikmah Puasa Ramadhan – lengkap untuk kesehatan dan rohani.

Haruskah cara mengqadha puasa dilakukan secara berurutan?

Puasa sebenarnya sama dengan menjalani cara diet cepat dan alami, tapi mengenai ini mari kita simak sebuah hadis yang disampaikan oleh Rasulullah saw. sebagaimana disampaikan oleh Ibnu Umar berikut ini:

قَضَاءُ رَمَضَانَ إنْ شَاءَ فَرَّقَ وَإنْ شَاءَ تَابَعَ

“Meng-Qadha’ (puasa) Ramadhan itu, jika seseorang berkehendak, maka ia boleh melaksanakannya secara terpisah. Dan jika ia berkehendak, maka ia boleh menunaikannya secara berurutan. ” (HR. Daruquthni)

Jadi jelas sekali bahwa dalam membayar utang puasa seseorang bisa memilih antara melakukannya secara berurutan atau secara terpisah, dalam artian pelaksanaannya dilakukan tidak berturut-turut setiap hari.

Cara Mengganti Puasa Ramadhan Menurut Pendapat Imam Mazhab: Haruskan ditunaikan pada bulan Syawal atau setelahnya?

Sudah disebutkan di atas landasan dari dalil yang valid mengenai cara mengganti puasa tapi untuk jelasnya kita juga sebaiknya mengetahui pendapat dari beberapa Imam Mazhab mengenai kebolehan dan tidaknya melakukan Qadha secara tidak berurut atau terputus-putus.

Baca dulu, Hal-Hal yang Membatalkan Puasa

1.  Yang membolehkan Qadha setelah bulan Syawal
  • Imam Abu Hanifah dan Imam Ahmad – Menurut pandangan dari kedua Imam ini yang salah satunya kita kenal dengan mazhabnya yang bernama Mazhab Hanafi berpendapat bahwa dalam mengganti puasa yang telah ditinggalkan maka tidak diharuskan melakukannya secara berturut-turut setiap hari setelah selesai menjalani puasa Ramadhan, dalam hal ini pada bulan Syawal, tapi bisa dilakukan selang seling atau semampu kita, misalnya saja senin puasa lalu kamis puasa lagi dan minggu depannya tidak lagi maka ini tak menjadi masalah atau pun kalau mau melaksanakannya pada senin kamis saja hingga lunas semua utang puasa yang telah ditinggalkan juga tak menjadi masalah selama sebelum memasuki bulan Sya’ban. Bahkan dalam pendapat ini menyatakan bahwa kebolehannya bersifat Mutlak dalam artian tidak ada larangan sama sekali jika dilakukan demikian.
  • Imam Syafi’i dan Imam Malik – Berbeda dengan pendapat di atas yang mana kedua Imam ini berpendapat bahwa menjalankan puasa pada bulan Syawal adalah makruh dan bukan Mutlak karena beralasan bahwa pada bulan tersebut adalah waktu dimana seseorang disunnahkan menjalankan ibadah puasa sunnah sedang Qada’ puasa bisa ditunda dan dilakukan setelahnya. Pendapat ini dikuatkan oleh ayat dalam surah Al-Baqarah yakni pada ayat 185 yang mana dalam ayat tersebut tidak merincikan kapan waktu untuk mengganti puasa Ramadhan seharusnya dilaksanakan.
2.  Yang mengharuskan Qada’ setelah bulan Puasa
  • Mazhab Hambali – Pada pendapat kali ini bahkan mengatakan bahwa haram hukumnya menjalankan puasa Syawal sedang ia belum membayar utang puasa Ramadhan yang telah ditinggalkan. Hal ini didasarkan pada sebuah hadis yang mana menurut sebagian ulama dinilai sebagai hadis Dhaif. Bahkan dalam hadisnya lebih keras lagi menyebutkan bahwa puasa seseorang tidak akan diterima jika ia menjalankan sunnah syawal sedang ia belum meng-qadha puasa wajibnya.

Bagi anda yang belum tahu Resep Aneka Kue Kering Lebaran silahkan simak ulasannya melalui link tersebut. Ada banyak sekali jenis kue kering, seperti coklat, nastar, keju, lidah kucing dan lainnya.

Bagaimana jika yang bekewajiban mengganti puasa Ramadhan ternyata meninggal dunia?

Sama halnya dengan hutang ia tidak akan lunas hingga ia ditunaikan, demikian pula dengan puasa Ramadhan yang ditinggalkan yang hukumnya wajib. Selama tidak dibayar maka hingga seseorang telah meninggal dunia ia tetap menanggung utang tersebut dan diakhirat akan dimintai pertanggunganjawabnya. Itulah sebabnya hutang puasa bagi orang yang telah meninggal otomatis menjadi tanggungan keluarganya, apakah anak atau istri/suaminya. Adapun cara menjalankannya terdapat 2 pendapat, yaitu:

1.  Membayar dengan fidyah

Pendapat ini menyebutkan bahwa seseorang yang menjadi pewarisnya dapat menggantinya cukup dengan membayar fidyah atau denda senilai 0,6 kg makanan pokok, dalam hal ini beras karena inilah yang biasa kita komsumsi setiap hari, sesuai dengan jumlah bilangan hari yang telah ditinggalkan si mayyit. Hal ini di dasarkan pada sebuah hadis:

مَن مَاتَ وَعَلَيْهِ صِيُامْ أُطْعِمَ عَنْهُ مَكَانَ يَوْمٍ مِسْكِيْنٌ

“Siapa yang meninggal dunia lalu ia mempunyai utang puasa, maka dapat diganti dengan memberi makan (fidyah) kepada orang miskin sesuai hari yang ditinggalkan setiap harinya.” (HR Tirmidzi)

Namun menurut sebagian ulama, hadis ini tidak bisa dijadikan dasar karena digolongkan sebagai hadis yang mauquf atau tidak dipakai karena juga tergolong gharib. Sekalipun demikian ini tetap memiliki landasan penguat yang mana masyarakat Madinah waktu itu bisa memberi makan fakir miskin sebagai pengganti puasa keluarganya yang telah meninggal tiap harinya sesuai jumlah hari puasa yang ditinggalkan.

2.  Harus membayar dengan Qadha puasa

Pendapat ini bahkan mengharuskan membayar utang puasa orang yang telah meninggal dengan qadha’ dan bukan fidyah. Hanya saja bila ahli warisnya tidak dapat melaksanakannya maka ia boleh meminta orang lain melakukannya dengan kesepakatan yang dibuat sebelumnya, apakah dengan memberi imbalan atau selainnya selama tidak melanggar larangan agama. Mengenai ini mereka merujuk pada sebuah hadis berikut:

مَنْ مَاتَ وَ عَلَيْهِ صِيَامٌ صَامَ عَنْهُ وَلِيُّهُ

“Siapa yang meninggal dunia dan mempunyai kewajiban untuk meng-qadha puasa, maka walinya berpuasa untuk menggantikannya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Pendapat ini bisa dibilang lebih kuat karena hujjah yang mereka ambil berdasarkan hadis yang sahih. Dan kami menyarankan sebaiknya menjalankan pendapat kedua ini karena landasan hadisnya yang shahih. Adapun soal masyarakat Madinah yang dilakukan di atas kurang kuat untuk dijadikan alasan untuk membayar puasa dengan fidyah.

Selain puasa, Cara Diet Mayo Klinik Wajib juga anda baca sebagai referensi untuk menurunkan berat badan yang banyak dilakukan oleh artis dan yang paling trend saat ini.

Bagaimana jika jumlah hari puasa yang ditinggalkan tidak diketahui pasti?

Ini bisa saja terjadi pada wali yang ingin menggantikan puasa orang tuanya yang telah meninggal atau pada kita sendiri yang mungkin karena sudah terlalu lama tidak membayarnya jadi lupa berapa jumlah hari puasa yang telah ditinggalkan. Nah untuk ini kita bisa melakukan persamaan pada saat melakukan shalat dan kita lupa, maka agama mengajarkan sebaiknya memilih angka yang lebih sedikit atau yang paling maksimum.

Misalnya saja kita lupa apakah punya untang puasa 5 hari atau 7 hari, maka solusinya adalah memilih yang 7 hari tersebut karena dengan demikian kita lebih berhati-hati pada kewajiban puasa ramadhan yang telah ditinggalkan dan kalau pun ternyata sebenarnya hanya 5 hari maka otomatis ia akan bernilai sebagai puasa sunnah.

Cara seperti yang disebutkan Caraspot di atas jauh lebih aman karena kemungkinan meninggalkan puasa sangat kecil sebab kita memilih yang bisa meng-cover semua kemungkinan. Berbeda kalau misalnya kita memilih telah meninggalkan puasa 5 hari, sebagaimana di sebut pada contoh di atas, tapi ternyata puasa yang kita tinggalkan sebenarnya adalah 7 maka sudah barang tentu kita tidak mengqadha 2 puasa wajib kita yang mana hal tersebut akan menjadi pertanggungjawaban kita di akhirat, selama kita tidak melakukannya dengan sungguh-sungguh.

Untuk ibu hamil, apakah cukup membayar utang puasa dengan Fidyah?

fidyah ibu hamil dan menyusui

Mengenai persoalan ini ada sebuah dalil dari Al-Qur’an al-Karim yang secara jelas menunjukkan kebolehan membayar fidyah sebagai ganti puasa bagi ibu hamil, yakni pada ayat berikut:

وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ فَمَن تَطَوَّعَ خَيْرًا فَهُوَ خَيْرٌ لَّهُ وَأَن تَصُومُواْ خَيْرٌ لَّكُمْ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ

Dan wajib bagi orang-orang yang berat dalam menjalankannya (jika mereka tidak menjalankan berpuasa) untuk membayar fidyah, (yakni): memberi makan seorang yang miskin. Barang siapa dengan kerelaan hatinya melakukan kebajikan, maka demikianlah yang lebih baik baginya. Dan berpuasa itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. (QS. Al-Baqarah/2: 184)

1. Pendapat Ibnu Umar, Ibnu Abbas, Ibnu Jubair

Para ulama di atas berpendapat bahwa bagi ibu yang sedang mengandung dan menyusui hanya diwajibkan membayar fidyah saja, tanpa harus menggantinya lagi dengan qadha atau berpuasa di luar bulan Ramadhan. Pada ayat di atas jelas sekali menunjukkan kebolehan membayar fidyah bagi orang yang berat menjalankannya, termasuk untuk ibu hamil yang jika seandainya ia berpuasa dikhawatirkan dapat membahayakan janin yang ada dalam kandungannya, apalagi misalnya telah divonis kelainan tertentu pada kandungan atau janinnya yang mana ia butuh asupan makanan yang lebih, dan termasuk juga pada ibu menyusui yang mungkin saja anaknya baru lahir sehingga butuh ASI yang lebih banyak setiap harinya.  Hal ini juga didasarkan pada sebuah riwayat dari Ibnu Abbas yang mana beliu pernah meminta pada seorang ibu yang sedang mengandung untuk berbukan dengan ungkapan:

أنت بمنزلة الكبير لا يطيق الصيام، فافطري، وأطعمي، عن كل يوم نصف صاع من حنطة

“Kalian seperti orang lanjut usia yang sudah tidak mampu berpuasa, maka berbuka saja, dan berilah makan pada orang miskin  (membayar fidyah) di setiap hari yang telah ditinggalkan berupa setengah sho’ dari hinthah” .

2.  Mazhab Imam Malik dan Syafi’i

Dalam mazhab Maliki dan Syafi’i, mengeluarkan pendapat yang lebih berhati-hati dimana ibu yang menyusui yang membatalkan puasanya di bulan Ramadhan maka ia diwajibkan membayar fidyah dan juga mengqadha puasanya. Ini terlihat sangat berat karena seseorang mendapat dua kewajiban yang mana jika ia menjalankannya sebenarnya hanya harus berpuasa saja. Tapi demi kehati-hatian agar tidak membawa utang puasa hingga mati maka disarankan untuk melakukan ini sebab meninggalkan puasa Ramadhan juga bukanlah perkara ringan, apalagi bagi orang yang tidak punya uzur sama sekali.

Takaran / Ukuran Fidyah Puasa

Bentuk fidyah dalam mengganti puasa Ramadhan yang dianjurkan umumnya berupa makanan pokok yang sering dikomsumsi setiap hari, jika memang setiap hari mengkomsumsi beras yang berkualitas tinggi maka fidyahnya pun harus demikian dan jangan diganti dengan kualitasnya lebih rendah karena alasan ingin lebih murah. Dan demikian juga bagi orang yang makanan pokoknya dalam bentuk lain, seperti jagung, ubi jalar, gandum dan selainnya, harus dengan jenis yang sama yang dikomsumsi setiap hari. Dan mengenai ini ada beberapa pendapat:

Satu Sha’ – Untuk takaran dengan menggunakan istilah ini adalah setara dengan 4 mud yang berarti pula sama dengan jumlah takaran zakat fitrah, yakni kurang lebih 2,7 liter beras atau bahan pokok lainnya. Pendapat ini dianut oleh mazhab Hanafiah.

Satu Mud -Jika disetarakan dengan ukuran berat maka 1 mud = 675 gram, jadi tidak sampai 1 liter. Jadi jika anda memilih pendapat ini, yakni menurut Imam an-Nawawi, maka fidyah yang dikeluarkan untuk membayar utang puasa anda hanya seperempat dari yang pertama di atas.

Penulis Caraspot sendiri menyarankan untuk memilih yang pertama sebagai bentuk kehati-hatian, apalagi kalau anda juga memilih pendapat Ibnu Umar yang membolehkan mengganti puasa cukup dengan fidyah saja, tanpa harus lagi melakukan Qada’.

Ilmu soal Cara Mengganti Puasa Ramadhan (Meng-Qadha’ Puasa Yang Ditinggalkan) tentu belum bisa dikatakan sempurna, kami masih menerima masukan dari berbagai pembaca setia blog ini. Dan bila anda punya pendapat sendiri silahkan berkomentar dalam kolom yang telah disediakan.

About The Author

Comments

  1. sri

    kapan.waktu yg tepat dlm membayarkan fidyah? apakah harus dlm bulan ramdhan atw boleh di luar bln ramadhan?

    1. Caraspot Article Author

      Waktu pembayara fidyah sebagaimana pandangan ulama: bisa dibayar di hari itu juga kita tidak melaksanakan puasa, bisa juga diakumulasikan dan dibayar sebelum Ramadhan selesai, tapi bila tidak sempat di bulan Ramadhan maka masih dibolehkan dibayar di bulan berikutnya seperti syawal dan bulan berikutnya.

      Namun, yang tidak boleh adalah membayar fidyah sebelum bulan ramadhan hanya karena memperkirakan bahwa ia nanti akan menyusui atau sebagainya, selain itu, karena meninggalkan puasa di tahun tersebut maka sangat dianjurkan membayar fidyah sebelum masuk ramadhan selanjutnya atau dalam kurung waktu 11 bulan setelah bulan puasa.

  2. muslih pgan

    Apakah pahala mengganti puasa sama besar pahalanya dengan ketika kita puasa dibulan ramadhan ?

    1. Caraspot Article Author

      Pada dasarnya mengenai pahala itu urusan tuhan dan tergantung pada ketulusan niat kita. Tapi yang jelas, melakukan ibadah di bulan ramadhan dengan di luar bulan tersebut tentu berbeda pahalanya.

      Bahkan dalam sebuh riwayat disebutkan, khusus untuk orang yang meninggalkan puasa Ramadhan dengan sengaja, disebutkan bahwa walau ia menggantinya dengan 1000 hari puasa di bulan lain tetap tidak akan membayar dan menggantikan pahala jika ia berpuasa di bulan ramadhan, ini karena begitu mulianya bulan tersebut dan begitu tingginya pahalanya.

      Dalam sebuah hadis Nabi disebutkan, sebagaimana diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud, dia berkata, “Barangsiapa yang tidak berpuasa selama satu hari dari bulan Ramadhan tanpa ada rukhshah untuknya, maka tidaklah dia dapat menggantikannya meskipun dengan berpuasa setahun.”

      Dengan demikian, jelaslah bahwa pahala puasa sehari di bulan mulia tersebut tak akan tergantikan dengan puasa apa pun di hari lain, bahkan sekalipun itu dilakukan setahun penuh setelahnya.

  3. Rina

    Saya ingin bertanya apakah hutang puasa beberapa tahun yg lalu masih bisa diganti?

    1. Caraspot Article Author

      Pada dasarnya Qadha hanya bisa dialkukan sebelum Ramadhan berikutnya tiba, bila sudah lewat maka kewajiban tersebut sudah sirna dan bagi orang yang meninggalkanya secara sengaja maka ia telah melakukan dosa besar.
      Namun, sekalipun demikian, menurut mayoritas ulama bahwa walau waktu untuk mengganti puasanya telah lewat, tetap saja hukum Qadha tersebut tidak hilang, dalam artinya ia tetap wajib menggantinya.

      Adapun karena tidak mengganti hingga waktunya, maka orang tersebut telah melakukan dosa besar dan wajib bertobat nasuha dan tidak akan mengulangnya lagi pada Ramadhan yang lain. Dan sebagian ulama juga mengungkapkan bahwa selain mengqadha, ia juga berkewajiban membayar kaffarat atau denda berupa memberi makan orang miskin sebanyak hari yang ia tinggalkan.

      Sudah disinggung di atas, bahwa dalam sebuah riwayat disebutkan kalau nilai sehari puasa Ramadhan tidak ada bandingannya dengan puasa mana pun di bulan lain, bahkan disebutkan…. sekalipun diganti dengan 1000 hari berpuasa tetap saja tidak dapat menggantikan nilai keutamaan ramadhan. Nauzu billah!!! karenanya mari kita semua berkomitmen untuk menjaga puasa kita di bulan yang mulia tersebut, jangan sampai meninggalkannya dengan sengaja!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *