Jika anda bertanya apakah boleh jual beli secara kredit dalam Islam sedang harganya lebih mahal dari beli kontan atau lunas? Atau bagaimana Hukum Kredit Barang dalam Islam, Bolehkah? Jawabnya, ya, bisa! Tapi tak se-simpel itu, harus ada alasan pasti dan jurnal soal ini mengapa Islam membolehkannya, terutama dalam kajian hukum Syari atau hukum Islam. Ini karena landasan kita dalam bertindak dalam keseharian kita, apalagi bagi seorang muslim, selayaknya hanya Al-Qur’an, Hadits dan pendapat dari Jumhur Ulama yang kita jadikan sebagai rujukan, dan bukan yang lain.

Jika kita membeli secara kontan atau jika penjual menjual barangnya dan lansung dibayar lunas maka wajar ia mendapat selisih harga lebih sedikit dibanding jika ia menjualnya dengan cara dicicil atau kredit.

Alasannya karena :

Seorang pebisnis, khususnya yang memberikan kredit pada nasabahnya, juga harus mengeluarkan biaya-biaya selama proses pencicilan utang kredit berlangsung, di antaranya gaji karyawan, biaya administrasi, serta biaya transportasi (jika dilakukan penagihan langsung ke rumah nasabah).

Dan yang lebih penting lagi adalah karena nilai uang saat ini dengan 10 tahun akan datang (jika mislanya kredit rumah) tidak sama, dari bulan ke bulan terus berkurang dan semakin kecil nilainya. Memang jumlahnya tidak berkurang, tapi nilainya saat dibelanjakan semakin sedikit. Inilah yang dinamakan dengan ‘inflasi’, yakni menyusutnya nilai uang karena nilai tukarnya yang semakin rendah yang umumnya dipengaruhi oleh kenaikan harga barang-barang. Jadi, mana mungkin beli rumah harga 100 juta harganya sama dengan kalau dibayar cicil 10 tahun. Kan si pebisnis bisa rugi kalau begitu?

Sebelumnya, masalah dengan utang? baca dulu Kumpulan Doa-Doa Mustajab untuk Kelancaran Rezeki

Dalil Hukum Kredit Barang dalam Islam

Ada dua dalil yang dijadikan pedoman, yakni Al-Qur’an dan Hadits Nabi. Selain itu, di bawah kami tunjukan pula pendapat ulama mengenai ini dan juga alasan pendapatnya tersebut sehingga membolehkan kredit barang.

a. Al-Qur’an

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا تَدَايَنْتُمْ بِدَيْنٍ إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى فَاكْتُبُوهُ

Hai orang-orang yang beriman, jika kamu bermuamalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya.” (QS. Al Baqarah : 282)

Dari redaksi ayat di atas saja jelas sekali kalau utang dalam Islam boleh yang artinya kredit pun demikian karena kredit adalah bagian dari hutang piutang.

b. Hadits Nabi

اشْتَرَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ يَهُودِيٍّ طَعَامًا بِنَسِيئَةٍ، وَرَهَنَهُ دِرْعَهُ

Rasulullah saw. membeli sebagian bahan makanan dari seorang yahudi dengan pembayaran secara hutang dan beliau juga menggadaikan perisai kepadanya.” (HR. Bukhari:2096 dan Muslim: 1603)

Tampak jelas sekali, jangankan barang, bahan makanan saja bisa dihutangi dan itu dicontohkan oleh Nabi sendiri yang mana orang yang menjadi tempatnya berhutang adalah orang Yahudi.

Berikutnya… adalah dalil yang paling jelas menunjukkan hukum kredit barang dalam Islam atau kebolehan jual beli dengan harga lebih mahal.

Hadits Abdullah bin ‘Amer bin Al ‘Ash ra.

أن رسول الله صلى الله عليه و سلم أمره أن يجهز جيشا قال عبد الله بن عمرو وليس عندنا ظهر قال فأمره النبي صلى الله عليه و سلم أن يبتاع ظهرا إلى خروج المصدق فابتاع عبد الله بن عمرو البعير بالبعيرين وبالأبعرة إلى خروج المصدق بأمر رسول الله صلى الله عليه و سلم. رواه أحمد وأبو داود والدارقطني وحسنه الألباني

Bahwasanya Rasulullah saw. memerintahkan aku mempersiapkan suatu pasukan, sedangkan kita (waktu itu) tidak memiliki tunggangan, maka Nabi saw. memerintahkan Abdullah bin Amr bin Al ‘Ash membeli tunggangan (kuda) dengan pembayaran tertunda hingga datang saatnya waktu penarikan zakat. Maka Abdullah bin Amr bin Al ‘Ash pun setelah diperintah oleh Rasulullah saw. akhirnya membeli setiap ekor unta dengan harga dua ekor unta yang akan dibayarkan kemudian ketika telah tiba waktunya pengumpulan zakat. (HR. Ahmad, Abu Dawud, Ad-Daraquthni dan hadis ini dihasankan oleh Al Albani)

Pada riwayat di atas jelas-jelas menunjukkan boleh kredit barang dengan harga lebih tinggi dari beli kontan atau lunas yang mana Nabi sendiri bahkan membayar hingga 100 persen lebih mahal dari harga sebenarnya karena alasan pembayarannya ditunda dan juga karena kebutuhan akan tunggangan tersebut sangat dibutuhkan dan mendesak segera dipenuhi. Bahkan kalau kita bandingkan sekarang, mungkin apa yang dipraktekkan Nabi jauh lebih tinggi nilainya karena kredit bank sekarang hanya 10% per tahun untuk cicilan rumah.

Karena ini soal harta dan bisnis, maka sempatkan dulu baca Kisah Abdurrahman bin Auf (bagaimana ia bisa sukses berbisnis dan jadi orang kaya)

hukum kredit barang dalam islam

Akad Jual Beli dalam Perjanjian Kredit menurut Islam

Jadi, sekalipun kredit itu boleh dalam Islam tapi tidak semua kredit itu halal, terutama yang menggunakan system konvensional, bukan dengan sitem keuangan syariah. Lalu apa bedanya? Nah berikut ulasannya:

a. Sistem Kredit Konvensional

Jadi kalau kredit menggunakan koperasi, BPR, Leasing dan lembaga perkreditan lainnya serta bank umum yang tidak berdasarkan hukum kredit barang dalam Islam, maka dalam akadnya yang menjadi dasar perhitungan adalah nilai uangnya. Jadi, berapa uang yang dipakai nasabah untuk membeli barang, maka dari situ dihitung berapa bunganya, misalnya untuk kredit beli TV bunganya 15% (per tahun) maka jika harganya 2 juta dan ia mengutang selama 2 tahun maka ia harus membayar cicilan dengan total 2,3 juta selama 24 bulan.

b. Sistem Kredit Syariah

Adapun dalam sistem keuangan syaraiah, khususnya dalam urusan kredit, pebisnis tidak mengambil keuntungan dari bunga pinjaman, tapi dari pembelian. Istilahnya ‘margin’.. Mislanya saja harga TV juga 2 juta seperti di atas, dan kita mau utang lewat BMT atau koperasi syariah, maka prosesnya adalah BMT akan membantu membelikan TV tersebut atau bisa juga nasabah yang membelinya sendiri dengan pinjaman dari BMT. Nah, dari harga TV yang sudah diketahui tersebut si lembaga BMT mengambil keuntungan dengan menaikkan harganya. Nilainya bisa sama dengan konvensional di atas, yaitu 300ribu jika dicicil 2 tahun. Tentunya juga dengan memperhitungkan aspek bisnis, seperti persaingan, nilai inflasi pre tahun dan sebagainya.

Intinya, dalam kredit Islam, walau pembelian dilakukan secara kredit tetap saja keuntungannya dihitung dengan cara menaikkan harga barang sama halnya dengan jual beli, dan bukan dari nilai uang yang dipinjamkan. Jadi tetap sama dengan jual beli dan tidak ‘menjual uang’. Mengenai kelebihan dengan sistem ini diuraikan di bawah.

Walau dari segi nilai sama saja hasil akhirnya, tetap saja berbeda. Karena kredit konvensional menjadikan uang sebagai komoditinya, sedang kredit syariah berdasarkan jasa dan jual beli.

Ingat! Jangan pernah bilang “sama saja kredit konvensional dengan kredit syariah!” Karena apa yang ditetapkan oleh ulama adalah berdasarkan Al-Qur’an dan Hadis Nabi. Dan jika Anda melakukan itu maka sama saja menghina Tuhan dan itu dosanya besar sekali.

Perlu juga diketahui kalau yang membedakan system syariah dengan lainnya bukan saja soal hitung-hitungannya, tapi ada banyak hal, di antaranya:

  1. Dalam hukum kredit barang dalam Islam barangnya harus jelas dan diketahui. Misalnya saja kamu mau kredit apartment tapi belum jadi, maka dalam ilmu ekonomi Islam ini tidak bisa dilakukan karena yang jadi komoditi bukan uangnya tapi barangnya. Kalau Anda katakan ini sama saja, jelas keliru! karena cara ini jelas-jelas melindungi manusia dari kerugian. Jika seandainya barangnya belum ada lalu bank memberi cicilan dan ternyata di tengah jalan developer-nya kabur, apa si nasabah tidak tersiksa karena harus nyicil barang yang tidak ada dan tidka dimiliki sama sekali.
  2. Tidak ada istilah ‘uang beranak’ – Bagi rentenir ini adalah cara untung berkali-kali lipat jika si pengutang telat bayar yang mana jumlah utangnya semakin banyak seiring dengan keterlambatan pengutang membayar utangnya. Dalam Islam, jika orang yang kredit nunggak maka nilai kreditnya sama sekali tidak naik. Yang ada mungkin cuma denda, dan itu wajar sebagai perlindungan bisnis dan agar memaksa orang disiplin.
  3. Cicilannya tetap sampai lunas – Ini kurang lebih sama dengan di atas, tapi khusus soal nilai kredit per bulan. Kalau dalam kredit konvensional jumlah cicilannya tidak tetap tapi mengikuti suku bunga karena yang dijual uangnya. Ini sebenarnya sisi ketidakadilannya karena jika suku bunga naik maka kreditnya juga naik. Dalam prakteknya, banyak juga yang akhirnya gagal bayar karena tidak bisa bayar cicilan yang naik karena mengikuti suku bunga yang fluktuatif.
  4. Akad syariah lebih jelas – Dimana transaksi dilakukan, dengan uang apa dibayarkan, dari mana barangnya diperoleh, untuk tujuan apa barang dibeli dan sebagainya harus diketahui. Selain baik untuk kedua pihak, transaksi semacam ini juga dimungkinkan untuk keamanan negara, sebab jika membeli sesuatu untuk tujuan kejahatan maka sudah tentu akan merusak banyak orang.
Pendapat Ulama

Imam Syaukani berkata soal kredit barang menurut Islam: “Baik Ulama Syafi’iyah, Hanafiyah, Zaid bin Ali, al-Muayyid billah serta Jumhur ulama membolehkan berdasar keumuman lafadz dari dalil yang menetapkan boleh. Dan inilah yang sekiranya lebih tepat.”

Betul sekali, jika tidak ada sama sekali nash atau dalil yang mengharamkan kredit maka tidak ada alasan bagi kita untuk menolaknya. Karena, mengharamkan yang halal sama berat dosanya dengan menghalalkan yang haram. Selain itu, dalam kaidah Ushul Fiqhi bahwa “asal dari hukum sesuatu adalah boleh, sampai ada hukum yang mengharamkan atau memakruhkannya.”

Dan yang juga menjadi terlarang dalam jual beli kredit adalah jika ada ketidakjelasan dalam perjanjiannya. Di masyarakat juga banyak yang mengeluhkan Leasing yang ketika sudah selesai atau lunas pembayaran kreditnya selanjutnya ia disuruh membayar sejumlah uang agar bisa mengambil BPKB motor yang ia cicil, padahal dalam akad sama sekali tidak ada perjanjian itu. Ini yang menjadikan haram sebenarnya, bukan pada kreditnya, kalau istilah Caraspot sih ‘administrasi siluman’.

Kesimpulan

  • Membeli secara kredit boleh asalkan bukan dalam bentuk bunga, tapi dengan sistem jual beli yang mengambil margin dari harga barangnya. Untuk itu disarankan menggunakan leasing syariah atau lewat koperasi syariah seperti BMT atau juga lewat bank perkreditan seperti BPR Syariah.
  • Dalam akadnya juga harus jelas dan tidak ada hal-hal yang disembunyikan karena prinsip syariah adalah akadnya harus jelas dan tidak ada yang dirugikan atau tidak menzalimi siapa pun.
  • Dan perlu dipahami bahwa dalam Islam tidak ada kredit uang seperti yang dilakukan di bank konvensional, tapi yang ada adalah barang yang dikredit dengan menggunakan uang, baik itu rumah atau untuk pembelian alat produksi pabrik atau peluang usaha sejenisnya.

Apa yang diterangkan di atas soal kebolehan jual beli kredit atau hukum kredit barang dalam Islam bukan hanya untuk barang tertentu saja, tapi semua kebutuhan dan barang, termasuk di dalamnya kredit rumah, kendaraan, biaya pendidikan (karena termasuk produk), elektronik dan sebagainya. Semuanya dibolehkan menurut ilmu ekonomi Islam selama dijalankan dengan syar’i dan bukan dengan sistem bunga.

About The Author

Comments

  1. Iyan

    Saya jadi tahu sekarang, tadinya saya ragu untuk kredit rumah, terima kasih gan, semoga ALLAH membalasa segala kebaikan agan

  2. tsa diah

    Mau tanya ustad,misal harga barang 1.300.000.saya bayar uang muka 300.000.sisanya kredit 130.000/bln selama 10 buhttp://www.caraspot.com/wp-admin/edit-comments.php#comments-formlan.apakah termasuk riba.

    1. Caraspot Article Author

      Kalau model pembayaran seperti itu memang tidak mungkin harga kontan sama dengan nyicil, karena pelunasan tertunggak dan si pengelola lembaga butuh biaya operasional dan lain2, jadi tidak apa. Tapi yang jadi persoalan adalah apakah menggunakan akad syariah atau tidak? Kalau akan konvensional hitungannya bunga dari markup harga tersebut dan itu sudah tentu HARAM. Tapi kalau sistem syariah hitungannya lain karena keuntungan diambil dari harga barang yang dinaikkan dan bukan dari nilai uangnya.

      Ujung2nya bisa saja sama jumlah rupiahnya, tapi dalam Islam niat dan perbuatan sama hitungannya. Kalau Tuhan melarang menjual uang maka apa pun alasannya tetap salah. Makanya, solusinya bisa pengajuan kredit syariah di koperasi syariah / BMT Atau BPR syariah, tapi kalau sama teman minta dibuatkan perjanjian dengan akad syariah.

  3. daniel susanto

    saya mengkreditkan barang dengan 1 pilihan/kredit saja, tidak menerima cash. saya mengambil untung 30%, saya kasih tempo 6 bulan, dan tidak ada pungutan denda bilamana ada keterlamabatan pembayaran.
    yg saya tanyakan apakah calon pembeli harus tau dulu harga awal barang sebelum saya mengambil untung (30%) tersebut? dan apa saya juga harus kasih tau saya mengambil untung 30% tersebut?
    mohon tanggapannya saya masih bingung dengan ini,,,

    1. Caraspot Article Author

      Daniel : Betul sekali, si peminjam harus tau berapa harga barangnya dan keuntungan anda. Artinya, hitungannya harus dengan markup atau peningkatan harga berdasarkan harga produknya, bukan berdasarkan jumlah uang dan persentase dari uang tersebut karena bila begitu sama saja anda menjual uang dan itu haram pastinya.

  4. Ubay Rubai

    Saya mau tanya, dari koment diatas berarti bila yg yang kita beri kredit setuju dengan untung yang kita dapat, berarti itu riba atau tidak.
    Walau pun untung tersebut dalam bentuk pesentase

    1. Caraspot Article Author

      Tapi persentase itu didapat dari harga barang, bukan uangnya. Sekalipun hasilnya bisa sama, tapi kalau niat, dan sistemnya beda maka tidak bisa kita katakan sama.

  5. HERLY SURYANI

    Assalamu’alaikum,sy seorang pedagang sistim kredit ,misalnya kredit satu buah cincin emas seharga rp 1jt lalu saya kreditkan menjadi 1,5jt dengan cicilan 5bln ,bagaimana agar hal tersebut tidak menjadi riba ?saya mohon penjelasan dan jalan keluarnya ,agar usaha yg sy lakukan tidak bertentangan dengan hukum islam,terimakasih….

    1. Caraspot Article Author

      Kalau mau, solusinya mas coba ambil pembiayaan ke BMT atau koperasi syariah, nah nanti kan mas dapat akad perjanjiannya… dari situ mas bisa belajar cara penghitungannya.

      tidak masalah mengambil untung 500ribu, hanya yang harus dihindari adalah cara hitungnya, yaitu kita menghitung atau mengambil keuntungan dari harga barang yang dinaikkan atau dimarkup dan bukan dari nilai uangnya yang dinaikkan. Bedanya, kalau barangnya yang dinaikkan dan dari marginnya kita ambil keuntungan berarti sama dengan kita menjual, dan aturannya … jumlah margin tidak bisa dinaikkan sekalipun si peminjam telat mengembalikan karena bukan bunga.

      Bedanya dengan kalau nilai uang yang dinaikkan maka terkadang nilai bunga naik seiring dengan waktu keterlambatan pengembalian. Hasinya pakai sistem syariah bisa sama dengan konven, tapi cara hitungnya dan niatnya tetap beda…

  6. Toni

    Assalamualaikum. Saya mau tanya, jika saya mau membeli Barang seperti TV dan sipenjual mengadakan syatem kredit melalui pihak ketiga, disana sudah ada harga kontan dan kredit, kalo kontan misalnya 1jt dan jika kredit /bulan 200rb selama 10 bulan, harga itu tetap sampai 10 bulan. Bagaimana hukum tersebut? Terima kasih.

    1. Caraspot Article Author

      Yang jadi masalah bukan keuntungan dari pemberi kreditnya, tapi dasar perhitungannya, kalau yang benar adalah mengambil keuntungan dari margin barang dan bukan dari nilai uang. Hasilnya bisa sama tapi niat dan cara hitungnya beda akan beda juga dimata Allah

  7. ikrimah

    pak ustad saya mau tanya saya kereditin barang selama 6 bulan, dan saya ambil keuntungan 30% saya ngasih tau harga belinya dan keuntungan saya, tapi kadang saya suka ngasih uangnya langsung misalnya 2 juta buat beli hp dan saya ttp ngambil keuntungan 30%. gmn hukumnya ya.. makasih pak ustad

    1. Caraspot Article Author

      Selama tambahannya itu di dasarkan dari harga barang, bukan dari uangnya maka itu bisa saja. Intinya, bukan uang yang dijual.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *