Anda bertanya, apa saja hal hal yang membatalkan puasa Ramadhan seseorang dan mengurangi pahalanya? Jawabannya simple saja, yakni tidak makan dan minum. Tapi, itu sebenarnya ilmu dasar yang kita ketahui sejak belajar Agama saat masih SD, karena sebenarnya ada banyak perkara yang bisa membuat puasa jadi batal atau pun amalnya tidak diterima di sisi Allah.

Agar lebih jelas dan mudah dipahami maka kami paparkan 2 perkara yang dapat membatalkan puasa, yakni yang bersifak fisik sebagaimana disinggung di atas dan juga yang bersifat rohani atau prilaku seseorang yang umumnya bisa terjadi dari panca indra selain mulut, seperti mata, telinga dan lainnya.

Ternyata, penulis juga belum lama ini mengetahui bahwa batalnya puasa juga tidak serta merta membolehkan seseorang langusng makan dan minum atau berhubungan bagi suami istri, tapi ada beberapa keadaan dimana seseorang selain harus mengqadha pada bulan berikutnya atau membayar fidyah, ia juga harus menahan diri dari makan dan minum. Ya, walau pun sudah dianggap batal, tetap saja tidak boleh makan. Bagaimana bisa? Dan apa saja kriterianya? Silahkan simak.

Hal hal yang membatalkan puasa seseorang

Pada dasarnya, fardu puasa atau hal yang wajib dalam ibadah utama Ramadhan ini hanya ada dua perkara, yakni:

Pertama, Melakukan niat pada malam hari, bisa niat untuk sebulan penuh atau pun khusus untuk hari esok yang akan dijalani dengan berpuasa. Bentuk sempurna dari niatnya adalah “Aku niat puasa Ramadhan besok untuk melakukan kewajiban tahun ini karena Allah Yang Maha Tinggi.”

Kedua, Meninggalkan segala perkara yang membatalkan pada waktu siang, yakni antara waktu imsak hingga watu berbuka.

Dengan demikian, orang yang tidak melakukan niat untuk berpuasa sebulan penuh, atau pun niat tiap malam Ramadhan maka puasanya dianggap tidak sah. Mengenai persoalan dilafalkan atau tidak, tergantung pendapat yang diikuti, yang jelas melakukan niat baik dalam hati atau diucapkan.

Sebelumnya, baca : 1001 Hikmah Puasa Ramadhan

Sejatinya, hanya ada ada 4 hal yang dapat membuat ibadah puasa seseorang menjadi batal atau tidak diterima dan harus melakukan Qadha atau pun membayar denda berupa diyat (tergantung kondisi orang yang melakukannya), di antaranya adalah:

  1. Masuknya sesuatu ke perut
  2. Muntah-muntah dengan sengaja.
  3. Keluar mani (sperma) disebabkan oleh tangannya sendiri atau tangan istrinya (onani).
  4. Wathi di farji (melakukan hubungan suami istri) dengan sengaja, dan mengetahui bahwa perbuatan tersebut diharamkan dan membatalkan.

(Sumber: Terjemah Irsyadul Ibad, oleh H. Mahrus Ali. Penerbit Mutiara Ilmu Surabaya, hal. 363)

Penting diketahui! Bahwa jika seseorang melakukan hal-hal yang membuat puasa batal dan secara syar’i puasanya betul batal, maka tidak serta merta dibolehkan untuk melakukan hal yang lazim dilakukan di luar Ramadhan, terutama makan dan minum atau melakukan senggama, melainkan ia harus tetap menahan diri hingga waktu buka puasa.

Dalam kitab Irsyadul Ibad disebutkan beberapa ketentuan seseorang yang harus tetap menahan diri dari makan dan minim walau puasanya telah batal, yaitu:

Tidak melakukan niat puasa wajib di malam hari, maka ia wajib mengqadha’ puasanya di bulan-bulan selanjutnya dan juga menahan dari dari melakukan sesuatu yang membatalkan puasa, seperti muntah, makan dan minum serta berhubungan suami istri.hal hal yang membatalkan puasa ramadhan

Makan sahur sedang waktunya sudah lewat lantaran mengira masih subuh atau berbuka puasa sebelm waktunya karena mengira sudah masuk waktu berbuka, maka ia juga wajib mengqadha dan menahan diri dari yang membatalkan ibadah puasanya.

Orang yang berpuasa pada hari ke 30 bulan Sya’ban tapi ternyata sudah masuk bulan Ramadhan, maka ia juga wajib mengqadha puasanya dan tetap menahan diri dari hal yang merusak puasa, sekalipun ibaah puasanya dianggap tidak sah hari itu.

Adapun orang yang wajib mengganti puasanya di bulan berikutnya, tapi tidak diharuskan menahan diri dari makan dan mimun, adalah musafir, orang yang sakit keras, dan wanita hamil atau menyusui (bila puasanya membahayakan janin atau anaknya). Orang-orang inilah yang walau pun dibolehkan tidak berpuasa, mereka tidak diarang untuk makan dan minum di siang hari.

Selanjutnya, baca dulu : Cara Mengganti Puasa Ramadhan

Apa yang disebut di atas adalah hal yang membatalkan dari segi fisik atau yang tampak, namun dalam banyak hadis Nabi diterangkan ada beberapa yang membuat pahala puasa menjadi tidak diterima yang mana perkara tersebut hubungannya dengan sifat atau prilaku tidak terpuji dari orang yang berpuasa. Untuk lebih jelasnya simak berikut ini

Perkara yang mengurangi / membatalkan pahala puasa berdasarkan Ijma Ulama

  1. Berdusta – Berkata yang tidak sebenarnya atau berbohong.
  2. Ghibah – Yakni membicarakan kejelekan orang saat ia tidak ada atau kadang disebut ‘bicara di belakang” yang maksudnya menyebut-nyebut keburukan orang ketika ia tidak berada di tempat.
  3. Saling memaki – Ini bisa terjadi saat kedua orang yang bermusuhan sedang berhadap-hadapan atau pun untuk zaman sekarang, orang yang saling mengumpat lewat sosial media dan layanan komunikasi lainnya juga masuk dalam kategori ini.

Khusus untuk 3 hal di atas, secara hukum Fiqih, jika dilakukan salah satunya oleh orang yang berpuasa maka puasanya tetap sah dan tak perlu melakukan qadha atau mengganti puasa ramadhannya. Namun, walau ia saha dan tidak batal, pahala puasanya di sisi Allah swt. dinggap tidak ada karena ia hanya terlepas dari kewajiban menahan lapar dan haus saja, tapi tidak dalam perkara melawan hawa nafsu yang bersifat rohani.

Semakna dengan penjelasan di atas, Nabi saw. pernah bersabda:

لَيْسَ الصِّيَامُ مِنَ الأَكْلِ وَالشَّرَبِ ، إِنَّمَا الصِّيَامُ مِنَ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ ، فَإِنْ سَابَّكَ أَحَدٌ أَوْ جَهُلَ عَلَيْكَ فَلْتَقُلْ : إِنِّي صَائِمٌ ، إِنِّي صَائِمٌ

Puasa bukanlah hanya sekedar menahan makan dan minum saja. Namun, puasa adalah (termasuk) menahan diri dari perkataan lagwu (perkataan sia-sia) dan rofats (kata kiasan untuk makan “berhubungan badan” atau bisa juga semua perkataan yang keji). Apabila ada seseorang yang mencelamu atau berbuat usil padamu, bilang padanya, “Aku sedang berpuasa, aku sedang berpuasa”.

(HR. Ibnu Majah dan Hakim. Syaikh Al Albani dalam kitab Shohih At Targib wa At Tarhib no. 1082 mengungkapkan bahwa hadits ini shahih)

Dalam hadits lain disebutkan,

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِى أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ

Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta malah mengamalkannya, maka Allah tidak butuh dari rasa lapar dan haus yang dia tahan.” (HR. Bukhari no. 1903).

Makna Az Zuur menurut As Suyuthi adalah berkata dusta dan menfitnah (buhtanun). Sedangkan seseorang yang melakukannya maka ia melakukan perbuatan keji yang telah dilarang oleh Allah.(Syarh Sunan Ibnu Majah, 1/121, Maktabah Syamilah)

Sehingga tampak jelaslah, sebagaimana diungkapkan oleh Al Hafidz Abu Musa Al Madani, bahwa sebenarnya meninggalkan makan dan minum adalah bentuk puasa yang paling ringan. Oleh sebab itu, bila kamu dalam keadaan berpuasa maka jagalah semua panca indramu, termasuk di dalamnya pendengaran, penglihatan, lidah yang tidak berbohong dan menyakiti tetangga, kaki yang tidak melangkah ke tempat maksiat serta tangan yang terjaga dari memegang atau mengambil sesuatu yagn diharamkan.

Sempatkan simak : Doa-Doa Mustajab bulan Ramadhan

Persoalan lain yang belum diklasifikasikan, tapi disebut dalam hadits Nabi saw:

Berikut ini adalah hal yang menjadikan puasa seseorang menjadi tidak diterima dikarenakan adanya unsur lain, di antaranya adalah:

1. Masih mempunyai hutang puasa

وَمَنْ اَدْرَكَ رَمَضَانَ وَعَلَيْهِ مِنْ رَمَضَانَ شَيْئٌ فَاِنَّهُ لَا يُقْبَلُ مِنْهُ حَتَّى يَصُوْمَهُ (رواه احمد)

Barang siapa yang menjumpai bulan Ramadhan dan mempunyai hutang puasa bulan Ramadhan (sebelumnya), maka tidak diterima puasanya sehingga mengqadha puasa (yang telah ditinggalkan) terlebih dahulu.” (HR. Ahmad)

(Sumber: Terjemah Irsyadul Ibad, oleh H. Mahrus Ali. Penerbit Mutiara Ilmu Surabaya, hal. 347)

Jelas sekali, bahwa seseorang yang berpuasa di bulan ini padahal pada Ramadhan sebelumnya masih punya tunggakan puasa yang belum dibayar, maka dengan sendirinya puasanya untuk tahun ini tidak diterima di sisi Allah swt. hingga ia menunaikannya.

2. Bersyahwat saat melihat wanita, memfitnah dan bersumpah palsu

Sebagaimana dikatakan oleh Imam Al Auza’I bahwa puasa itu akan batal dengan melakukan dusta atau menyebut kejelekan orang lain. Hal ini dikuatkan oleh sabada Rasulullah saw.:

خَمْسُ خِصَالٍ يَفْطِرْنَ الصَّائِمُ وَيَنْقُضْنَ اْلوُضُوءَ : الْكَذِبُ وَاْلغِيْبَةُ والنَّمِيْمَةُ وَالنَّظَرُ بِشَهْوَةٍ وَالْيَمِيْنُ الكَاذِبَةُ (رواه الزدى والدّيلمى عن انس رضي الله عنه)

Lima macam perkara yang membatalkan puasa dan wudhu seseorang, yaitu berusta, ghibah, namimah (mengadu domba, atau bisa juga berarti memfitnah), melihat wanita (yang bukan mahram) dengan syahwat, dan melakukan sumpah palsu.” (H.R. Al-Azdi dan Addailami dari Anas ra.)

Kesimpulannya, jika ingin puasanya diterima seutuhnya di sisi Allah maka pastikan selama sehari penuh di siang hari semua panca indramu terjaga dari hal-hal yang tidak baik yang bisa membatalkan ibada puasa Ramadhan, seperti berbicara kotor, bertengkar, atau bahkan yang sangat terlarang adalah menyakiti hati tetangga di bulan Ramadhan.

Dan agar lebih sempurna, saat berpuasa dan berbuka perbanyaklah beristigfar kepada Allah agar jika ada kesalahan yang tidak disadari dapat terhapus pada hari itu juga atas izin Allah swt. sehingga saat Idul Fitri tiba kita semua bisa keluar membawa peredikat taqwa sekali sebagai seorang muslim yang seperti terlahir kembali, tanpa dosa. Amin!

Kami sampaikan juga bahwa ketentuan yang dikutip dari kitab Irsyadul Ibad di atas bisa berlaku untuk semua puasa sunnah juga, seperti puasa Syawal 6 hari, puasa Arafah, hari Asyura, senin kamis, dan lain sebagainya.

Inilah beberapa hal hal yang membatalkan puasa yang mengakibatkan ibadah Ramadhan seseorang tidak diterima dan harus diganti atau diqadha pada bulan berikutnya. Adapun batas waktu penggantiannya adalah sampai sebelum masuk bulan Ramadhan berikutnya.

About The Author

Comments

  1. afif

    assalamualaikum wr.wb

    mau tnya “temen sya ada yg melakukan puasa sunah, tpi saat tidur dia mengalami mimpi basah saat puasa, nah apa puasanya tetap sah?apah dibatalkan? ap hukumnya? dan klo terjadi disaat puasa fardhu gmana?
    mohon jawabannya..

    wassalamualaikum wr.wb

    1. Caraspot Article Author

      Imam Abu Zakariyya An-Nawawi yang dirahmati Allah dalam kitab Majmu’ Syarah Al-Muhadzdzab [6/227] cet. penerbit Daar ‘Alamil Kutub mengungkapkan mengenai hal ini:

      “Jika seseorang yang berpuasa ihtilam atau dalamm istilah kita mimpi basah yang mana keluar sperma, maka hal tersebut tidaklah membatalkan puasanya sebagaimana ijma’ (kesepakatan) para ulama. Ini karena sesorang yang tertidur dikuasai oleh sesuatu keadaan yang ia sendiri tidak mampu untuk memilihnya atau menolaknya, seperti halnya seseorang yang kemasukan lalat pada mulutnya tanpa adanya kesengajaan dan kemampuan untuk menolaknya. Inilah yang menjadi sandaran dalil dalam persoalan ini.”

      Nah, sudah jelas ‘kan bahwa mimpi basah tidak membatalakan puasa kita, baik puasanya sunnah maupun wajib di bulan Ramadhan. Sebagai tambahan, sebagaimana dari fatwa Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ra. dalam kitab Syarhul Mumti’ [3/60-61] cet. penerbit Darul Atsar :

      “Mimpi basah tidaklah membatalkan puasa. Sekalipun sebelum tidur dia sempat memikirkan sesuatu, kemudian dalam tidurnya di siang hari dia ihtilam (keluar mani), karena seorang yang sedang tidur tidaklah memiliki pilihan dan kehendak. Dan sungguh ini sejalan bahwa pena (catatan amal) seseorang yang tidak dalam keadaan tertidur telah terangkat darinya atau termaafkan.”

  2. Hamba Allah

    Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh…

    Gini…
    Kalo misalnya mengeluarkan mani…tapi untuk kesehatan…(kencing susah gara2mani)

    Tolong jawab ya…

    1. Caraspot Article Author

      Yang namanya keluar mani, baik itu disengaja atau tidak tetap batal. Ini sudah jadi kesepakatan para ulama.

Leave a Reply to afif Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *