Nama asli Abu Jahal adalah Al-Hakam ibn Hisyam atau yang dikenal juga dengan Firaun Makkah. Orang Mekah umumnya mengenal pribadinya sebagai orang yang berwatak keras. Dari raut wajahnya terlihat jelas bahwa ia memeiliki hati yang keras dan pendendam. Bukan hanya itu, wajahnya tampak kelam seakan penyakit hati dalam dirinya tak pernah sembuh. Orang yang bertemu dengannya pasti akan merasa takut dan miris, karena selain kedudukannya di kalangan kaum kafir Quraisy, juga karena wataknya yang galak dan berperangai buruk. Bahkan dari kemampuan face reader saja sudah bisa diketahui bahwa pandangan matanya yang tajam tampak menakutkan bagi kebanyakan orang. Ia juga sering mengeluarkan kata-kata yang menyakiti hati orang lain. Pokoknya, siapa saja yang telah mengenal perangainya pasti akan berusaha menjauhinya, kecuali para sahabatnya yang berwatak sama.

Profil, Cerita, Kisah Abu Jahal

Inilah kisah dari manusia yang juga dijuluki Firaum Mekah, walah badannya tampak tak terlalu tegap dan gagah, tapi sifatnya yang keras membuat banyak orang takut padanya. Tapi walau demikian, karena prilakunya yang buruk terhadap Islam, Nabi dan Sahabatnya sehingga ia harus berakhir di tangan 2 anak muda yang gagah berani dalam perang badar. Berikut alur singkat kehidupan si durjana ini:

Perlakuannya Al-Hakam ibn Hisyam pada Rasulullah saw.

Dalam hati Abu Jahal sebenarnya punya impian untuk menjadi pemuka bagi kaum Quraisy. Ia berharap bahwa suatu hari nanti bisa jadi pemimpin bagi kaumnya dan juga pemimpin kota Makkah. Tapi angan-angannya hanyalah impian semata karena Allah swt. tidak pernah merhidai iitu, bahkan hingga ajal menjemputnya pada perang Badar ia dihinakan oleh Allah swt.

Ketika Muhammad putra Abdullah mendapat tugas mulia untuk menjadi Nabi dan Rasul Allah swt. dan mengumumkan dakwahnya pada masyarakat Mekah kala itu, Abu Jahal yang dikenal dengan wataknya yang pendengki merasa bahwa impiannya untuk menjadi orang nomor satu di kalangan kaum Quraisy semakin jauh dari kenyataan. Kini, ia merasa bahwa kepempinacerita kisah abu jahal si firaum mekahn atas kota suci tidak akan jatuh ke tangannya, apalagi saat itu banyak sekali anggota keluarganya yang mempercayai ajaran Muhammad dan memutuskan untuk memeluk Islam sebagai agama mereka yang baru, yang penuh dengan kebenaran dan kasih sayang. Dan mulai pada saat itu, sakit hatinya semakin menjadi-jadi setiap kali mengetahui kabar tentang keislaman penduduk Mekah.

Dikarenakan situasi tersebut, dalam kisah Abu Jahal ini, diketahui bahwa ia kemudian memutuskan untuk bergabung dengan pasukan kafir, yakni kaum Quraisy yang bersepakat menghentikan dakwah Muhammad saw. yang mereka anggap mengancam eksistensi Tuhan mereka. Semenjak itu, Abu Jahal tanpa hentinya melakukan berbagai usaha dan upaya untuk menyakiti dan mencelakakan Muhammad beserta para pengikutnya. Di tambah lagi dengan kebiasaannya minum arak, sebagaimana kebiasaan yang banyak dilakukan pemuda Mekah kala itu, membuat hati dan pikirannya dipenuhi dengan kebencian.

Sempatkan dulu baca : Pandangan Islam soal Menyusui dan Waktu Menyapihnya

Peran Abu Jahal terhadap penyiksaan budak-budak yang masuk Islam

Semenjak diproklamirkannya kerasulan Muhammad saw., suasana kota Mekah menjadi ‘panas’, di sana-sini terjadi penyiksaan, terutama pada kaum budak yang tidak memiliki kuasa atas dirinya sendiri dan penolong yang dapat membelanya.

Penduduk Mekah kala itu menyaksikan dengan jelas bagaimana para pemimpin mereka melakukan penyiksaan dan penindasan terhadap pengikut nabi Muhammad saw. Cuma satu tujuan mereka, yakni memaksa agar setiap orang yang telah murtad dari agama nenek moyang mereka, yakni menyembah berhala terkutuk, kembali dan meninggalkan agama Muhammad yang mereka anggap memecah-belah persaudaraan di antara mereka dan mengancam kedudukan mereka, ya karena ajaran Islam mengajarkan kesetaraan dan yang membedakan hanya Taqwa kita kepada Allah swt.

Salah satu kisah dari keluarga budak yang tak luput dari siksa majikannya adalah kelurga budak yang terdiri dari Yasir ibn Amir dari Yaman, dan istrinya Samiyyah bint Khayyath dan juga anaknya Ammar bin Yasir, mereka merupakan budak dari keluarga Bani Makhzum. Karena keputusan mereka memeluk Islam sebagai agama baru mereka, hingga akhirnya mendapat penyiksaan dari para pemuka Quraisy, termasuk di dalamnya Abu Jahal.

Dalam kisah dari Profil Abu Jahal ini dikisahkan bahwa pada suatu hari Abu Jahal mengunjungi tempat keluarga Makhzum yang mana di tempat itu dilakukan penyiksaan terhadap Yasir dan keluarganya. Abu Jahal terlihat senang sekali melihat meraka kesakitan sambil terbelunggu oleh rantai besi yang berat. Tubuh dari masing-masing budak itu terlihat lemas tak berdaya akibat beratnya siksa yang mereka derita. Di samping itu, majikannya juga sering memberikan siksaan yang tak manusiawi pada mereka, mereka bahkan sering dijemur di bawah terik panas matahri yang memanggang kulit. Terkadang pula mereka disiksa dengan diberi lempengan besi yang sangat panas di tubuh mereka sehingga tampak kulit mereka melepuh dan mengelupas.

Lalu apa yang bisa dilakukan oleh keluarga Yasir terhadap penyiksaan tersebut? Mereka tak bisa berbuat apa-apa karena status mereka sebagai budak yang tak mempunyai kuasa atas diri mereka sendiri. Bahkan Rasulullah saw. sewaktu melihat mereka disiksa tak bisa berbuat apa-apa (karena dalam aturan Jahiliyyah waktu itu sama sekali tak memungkinkan beliau melakukan tindakan apa-apa, selain karena jumlah umat Islam waktu itu masih sangat sedikit). Rasulullah saw. pun kala melihat keadaan pengikutnya tersebut memberikan kabar gembira berupa surga dengan bersabda, “ Bersabarlah, wahai keluarga Yasir. Tempat kembali kalian adalah surga!”

Walau penyiksaan demi penyiksaan dilakukan oleh Abu Jahal dan keluarga Makhzum, tapi tetap saja keluarga Yasir tak bergeming sedikit pun untuk meninggalkan agama Muhammad. Hingga suatu ketika, ketika Abu Jahal berkata pada Samiyyah, istri Yasir, yang ketika itu sedang dipanggang di bawah terik panas matahari, di atas pasir yang panas, dengan kalimat “Kafirlah dari agama Muhammad. Hinalah dan campakkanlah Muhammad.!” Abu jalah berjanji bahwa jika ia kembali pada agama lamanya ia akan dibebaskan.

Namun apa yang terjadi.? Sikap Samiyyah semakin kukuh dalam keislamannya. Ia sama sekali tak tertarik dengan tawaran tersebut. Bahkan di tengah rintihannya tersebut ia masih bisa berucap dengan tegas bahwa “Tidak…. aku tidak akan kafir dari agama Muhammad. Ia adalah Nabi yang diutus Tuhan.!”

Jawaban Samiyyah tersebut seperti tamparan bagi Abu Jahal. Ternyata penyiksaan yang ia lakukan selama ini tak ada hasilnya. Samiyyah bahkan semakin keras menolak ancamannya. Hingga pada akhirnya… Abu Jahal kehilangan kendali, amarahnya memuncak, sehingga akhirnya ia tusukkan tombaknya (dalam keterangan lain disebutkan ‘belatinya’) pada perut wanita suci tersebut. Akhinya, darah suci pertama, yang disebut sebagai syahid pertama dalam Islam, tumpah membasahi pasir bumi Mekah.

Selanjutnya, kejadian demi kejadian terus terjadi. Sikap Abu Jahal yang memusuhi Islam kian menjadi-jadi. Sepertinya, kebenciannya tak akan sirna hingga ajalnya menjemput.

Berbagai usaha dilakukan oleh Abu Jahal agar orang-orang mau membenci Muhammad dan juga pada pengikut-pengikutnya. Ia sungguh ingin melihat Islam padam di bumi Mekah. Setiap mendengar kabar tentang kesilaman seseorang ia selau melakukan berbagai usaha untuk mengajak orang tersebut kembali pada agamanya, mulai dari membujuknya dengan harta, hingga mengancam dan menyiksa.

Pada suatu hari…

Abu Jahal juga punya kebiasaan ngumpul dan duduk bersama sahabat-sahabatnya yang sefaham dengannya. Dari pertemuan-pertemuan semacam itu, mereka merencanakan berbagai siasat untuk melemahkan Islam dan pngikutnya.

Suatu ketika, Abu Jahal dan kawan-kawannya tengah membicarakan strategi untuk menyakiti Muhammad. Dan kebetulan, waktu itu mereka sedang melihat Nabi berjalan menuju Ka’bah, tempat dimana mereka sedang duduk waktu itu. Dengan wajah yang ceria beliau berjalan, dan ketika telah dekat, Abu Jahal pun bangkit dari duduknya dan berkata dengan nada sinis, “Apakah kalian pernah melihat Muhammad bersujud menundukkan kepalanya?”

Kawan-kawannya dengan karakter yang kurang lebih sama lantas menjawab, “Benar! Kami biasa melihatnya sujud dan mengatakan bahwa ia sedang salat kepada Tuhannya. Tuhan Yang ESA.”

Lantas Abu Jahal berkata dengan nada membanggakan diri, “Demi Latta dan Uzza, jika aku melihatnya bersujud, aku akan tendang bokongnya, dan akan kulumuri dengan tanah wajahnya, tanah Makkah.”

Singkat cerita, Rasulullah saw. pun tiba di Masjidil Haram lalu salat. Dan karena telah bersumpah sebelumnya, maka Abu Jahal pun bangkit agar bisa mewujudkan janjinya tersebut, yakni melakukan seperti apa yang ia katakan sebelumnya. Namun, apa yang terjadi? Ia sama sekali tidak bisa melancarkan rencananya. Jangankan melakukan seperti apa yang ia katakan, menghampiri Nabi saja tidak, karena ia seakan dihalangi oleh dinding yang kuat. Dan tak lama berselang, Allah swt. pun menurunkan ayat kepada Rasul-Nya:

“Ketahuilah! Sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas, karena ia melihat dirinya serba cukup. Sesungguhnya hanya kepada Tuhanmulah kembali(mu).” (Al-Alaq: 6-8)

Di hari yang lain, Abu Jahal kembali melakukan hal yang sama. Setelah Rasulullah saw. salat, Abu Jahal memandangi Nabi dengan pandangan sinis. Ia lalu mendekatinya dan berkata dengan suara yang menandakan bahwa ia sangat benci dengan utusan Tuhan tersebut, “Wahai Muhammad, aku melarangmu salat dan jangan pernah mendekati tempat ini (Masjidil Haram dan Ka’bah). Jika kau bersikeras, maka lihatlah apa yang akan kulakukan kepadamu.”

Namun, waktu itu, Rasulullah sama sekali tidak menghiraukannya dan pergi menjauhinya. Dan belum lama setelah itu Allah pun menurunkan ayat mengenai sikap Abu Jahal tersebut:

“Bagaimana pendapatmu jika orang yang melarang itu berada di atas kebenaran atau ia menyuruh bertakwa (kepada Allah)? Bagaimana pendapatmu jika orang yang melarang itu mendustakan dan berpaling? Tidaklah dia mengetahui bahwa sesungguhnya Allah melihat segala perbuatannya? Ketahuilah, sesungguhnya jika ia tidak berhenti (berbuat demikian), nisacaya Kami tarik ubun-ubunnya, (yaitu) ubun-ubun orang yang mendustakan lagi durhaka.” (QS. Al-Alaq: 9-16)

Di hari yang lain lagi Abu Jahal kembali ingin menghentikan rutinitas Nabi melakukan salat. Namun, setiap kali mau mendekati beliau ia melihat seekor unta yang sangat besar menghalanginya. Dan bersamaan dengan ini juga turun surah Al-Alaq ayat 17-19.

Kisahnya dengan Abdul Muththalib

Suatu hari, ketika Hamzah bin Abdul Muththalib pulang dari berburu. Seperti biasa, sebelumnya ia singgah di ka’bah untuk berdoa kepada tuhan-tuhannya. Waktu itu ia belum masuk Islam. Akan tetapi saat baru saja masuk di Masjidil Haram datang seorang wanita dan berkata kepadanya, “Wahai Abu Imarah, seandainya kau melihat apa yang dialami oleh putra saudaramu, Muhammad, dan mendengar penhinaan yang dilontarkan Abu Jahal kepadanya, entah apa yang akan kau perbuat kepadanya.”

Kemudian wanita itu menceritakan apa yang dilkukan Abu Jahal kepada Muhammad. Dan tak lama setelah itu, Hamzah bin Abdul Muththalib bergegas menemui Abu Jahal dalam keadaan marah. Dan tanpa berkata-kata ia langsung menarik baju Abu Jahal lalu membantingnya ke tanah dan memukul kepalanya dengan sangat keras. Dan karena tak terima, para pengikutnya berniat membalas perlakukan Hamzah tersebut, tapi dilarang oleh Abu Jahal karena ia tak mau keluarga Makhzum bermusuhan dengan keluarga Hasyim. Dan sejak itulah, kebencian dari Abu Jahal kepada Muhammad menjadikan Hamzah memeluk Islam dan menjadi muslim yang sangat taat.

Abu Jahal dan si Pedagang Asing

Pernah juga seorang pedangan unta dari Irak melakukan transaksi dengan Abu Jahal. Perjanjiannya, setelah beberapa hari, Unta yang dibeli oleh Abu Jahal darinya akan dibayar. Namun, setelah beberapa hari Abu Jahal tak kunjung membayarnya. Setiap kali ingin ditemui, ia tak pernah muncul entah kemana. Sehingga akhirnya, karena tak bisa lagi berbuat apa-apa, ia mendatangi para pemuka Mekkah yang tengah berkumpul di Ka’bah guna menceritakan masalahnya.

Singkat cerita, karena para pemuka tersebut menyadari kesalahan yang dilakukan Abu Jahal, sembari mereka merasa seakan-akan mendapat kesempatan emas untuk meruncingkan permusushan antara Abu Jahal dan Muhammad, maka pada akhirnya mereka pun meminta pedagang tersebut menemui Muhammad untuk menagihkan utangnya. Mereka berpikir bahwa beliau tak akan sanggup melakukannya karena tak punya pengaruh untuk menekan Abu Jahal. Namun apa yang terjadi? Baru mendengar kedatangan Nabi di depan pintunya, Abu Jahal langsung merasa gemetaran. Ia terkejut saat melihat nabi berdiri di depannya. Mukanya tampak sangat pucat. Dan ketika Rasulullah bertaka dengan tegas, “Berikan hak laki-laki ini sekarang juga!” ia tak mampu mengelak dan segera mengambil uang untuk membayar utangnya.

Dan karena pedangan tersebut meceritakan kejadiannya pada para pemuka Mekah yang sebelumnya memintanya untuk minta bantuan pada Nabi, para pemuka tersebut merasa heran dan berusaha menanyakan kepada Abu Jahal mengapa hal tersebut bisa terjadi. Dan Abu Jahal pun berkata bahwa ia melakukan hal tersebut karena dirinya diliputi rasa takut, karena ketika Nabi berdiri di depan pintu rumahnya ia melihat binatang buas yang siap menerkamnya dengan mulut menganga. Tapi apakah ia sadar setelah itu? Sama sekali tidak, ia malah semakin memusihi Islam.

Rencananya membunuh Nabi Muhammad saw.

Abu Jahal dan juga para pengikutnya tak pernah merasa tenang selama Islam masih terus tumbuh di tanah leluhur mereka. Di samping itu, mereka juga sangat benci pada penduduk Yastrib (sekarang Madinah) karena banyak dari mereka menyatakan sumpah setia kepada Nabi untuk mendukung dakwahnya dan menjaganya dari segala bencana.

Karena merasa sangat khawatir, dikarenakan banyak kesatria dan pemuka Mekah yang beralih mendukung Muhammad karena telah beralih memeluk agams Islam, kaum kafir Quraisy pun akhirnya melakukan pertemuan untuk membahas masalah ini. Singkat cerita, dalam profil Abu Jahal ini, diputuskanlah untuk membunuh Muhammad. Dan agar tak ada orang yang menuntut kematiannya, khususnya keluarga Hasyim, maka setiap kabilah yang bersekongkol mengirimkan seorang pemuda untuk membunuh Muhammad.

Namun, sayang seribu sayang, karena tak ada yang luput dari pengawasan Allah swt. akhirnya rencana busuk mereka diketahui oleh Nabi yang mana disampaikan oleh Jibril. Untuk itu, beliau dipertintahkan untuk hijrah ke Yastrib yang mana waktuitu ditemani oleh sahabatnya tercinta, yakni Abu Bakr. Hingga akhrinya rencara Abu Jahal tesebut lagi-lagi gagal dan berujung kekesalan.

Akhirnya perang Badar pun terjadi!

Seperti halnya dalam film perang, dalam kisah perang badar ini, saat dua pasukan saling berhadapan dan siap menyerang, dimulai dengan pemanasan yang mana pertama dilakukan duel antara 3 kaum kafir dan 3 dari kamu Muhajirin. Dari kamu kafir ada Utbah dan Syaibah serta al-Walid ibn Utbah, sedang dari pihak muslim ada Hamzah ibn Abdul Muththalib, Ali ibn Abu Thalib, dan Ubaidah ibn Al-Harits. Hingga akhirnya, pada waktu itu Syaibah dan Al-Walid bisa terbunuh, hanya saja Utbah tidak dan berhasil melukai Al-Harits.

Kemudian, perang pun akhirnya pecah…

Waktu itu, Abu Jahal mengambil peran sebagai pemimpin kaum kafir, sedang Ali ibn Abu Thalib sebagai pemimpin kaum muslim.

Dalam profil dan kisah Abu Jahal ini dikisahkan bahwa ketika perang berkecamuk dimana waktu itu sang pemimpin kafir berdiri dengan angkuhnya sambil menghunus pedangnya, tanpa ia sadari ada dua anak muda yang sedang mengawasinya, mengendap-ngendap sambil sesekali mengayungkan pedangnya untuk bisa mendekati dedengkot kafir tersebut.

Kedua anak yang dimaksud tersebut adalah Muaz ibn Amr ibn Jamuh dan Muaz ibn Afra. Mereka sebelumnya telah mendengar tentang kejahatan dan kebengisan pemimpin kafir tersebut. Karenanya, keduanya sangat berhasrat ingin menghabisi Abu Jahal dengan pedang mereka sendiri.

Singkat cerita, sebelum penyerangan keduanya dimulai, Muaz ibn Amr mendekati Abdurrahman ibn Auf dan bertanya, “Paman, manakah orang yang bernama Abu Jahal?” beliu lantas menjawab, “Apa yang akan kau lakukan kepadanya?”

Pemuda dengan penuh semangat itu menjawab, “Aku mendengar bahwa ia sering mencela Rasulullah saw. Demi Zat yang menguasai ubun-ubunku, seandainya kami bertemu dengannya, aku akan membunuh dan menghitamkan wajahnya sehingga ia mati tesungkur dengan pedang kami.”

Abdurrahman bin Auf terkejut mendengar ucapan pemuda tadi. Dan tak ingin kalah, ibn Auf juga berkata, “Aku juga paman. Aku telah bersumpah kepada Allah untuk membunuhnya atau terbunuh olehnya.”

Abdurrahman bin Auf lalu mengarahkan tangannya ke kerumuman pasukan kafir untuk menunjuk Abu Jahal yang dijaga ketat dan berlapis-lapis oleh pasukan pengamanannya. Kebetulan sekali, waktu itu Abu Jahal tengah berdiri angkuh sambil berkata “Demi Latta dan Uzza, kita tidak akan pulang sehingga kita cerai-beraikan tubuh mereka di gunung-gunung.”

Dan tanpa banyak bicara dan tanpa pikir panjang sebagaimana karakter banyak anak muda, maka kedua pemuda tersebut langsung berlari berusaha mendekati dedengkot kafir tersebut. Dengan sigap ia mengayungkan pedangnya untuk menyingkirkan orang-orang yang menjaga Abu Jahal. Dan tak lama setelah itu, setelah pedang kedua anak muda itu sudah mampu mencapai sasarannya, dengan cepat Muaz bin Amr menyabet kaki Abu Jahal. Dan tak ingin kehilangan kesempatan emas tersebut, Muaz ibn Afra juga langsung menusukkan pedangnya ke tubuh Abu Jahal hingga ia tak mampu lagi berdiri dan jatuh terkapar di pasir Badar.

Dan di moment tersebut Al-Harits ibn Hisyam (saudara Abu Jahal) juga menyaksikan kejadian tersebut, namun karena melihat pasukannya mulai terdesak, ia pun akhirnya kabur dari medan perang. Adapun Ikrimah bin Abu Jahal, ia berhasil menebas tangan Muaz bin Amr dan berhasil melepaskan zirahnya.

Akhirnya. Perang Badar pun berakhir yang mana umat muslim menjadi pemenangnya.

Setelah perang tersebut usai, Rasulullah saw. menanyakan keberadaan Abu Jahal. Beliau lalu berkata, “Carilah orang yang kedua lututnya terluka.” (ucapan nabi ini juga mengisyaratkan mukjizat kenabiannya karena mampu mengetahui ciri-ciri kematian Abu Jahal walau tak menyaksikan proses terbunuhnya). Dan Abdullah ibn Mas’ud pun mencarinya di antara mayat-mayat kaum kafir yang bergelimpangan. Akhirnya ia melihat orang yang ciri-cirnya disebutkan oleh Nabi tersebut, dan ternyata betul, orang yang kedua lututnya terluka karena sabetan pedang dan sedang mengalami sakratul maut tersebut adalah si Abu Jahal. Ibn Mas’ud pun lalu menginjak dadanya dan berkata, “Allah telah menghinakanmu, wahai musuh Allah!”

Akhir dari kisah Abu Jahal / Amr ibn Hisyam ini sungguh tragis. Setelah meningga dunia, Ibn Mas’ud lalu memenggal kepalanya lalu membawanya ke hadapan Nabi Muhammad saw. Itulah cerita sebenarnya dari orang yang dijuluki Firaun Makkah, yang terkapar tak berdaya hanya karena serangan dua pemuda muslim.

Lanjut baca : Tutorial Hijah Segi Empat

About The Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *