Sungguh kekeliruan besar jika dikatakan bahwa cara Islam disebarkan dengan pedang dan perang. Sama sekali tidak! fakta sejarah telah mencatatkan dengan sangat jelas kejadian dan alasannya, yang mana sangat jelas bahwa Islam betul-betul disebarkan dengan kedamaian dan mengikuti hukum perang yang berlaku saat itu. Mulai dari penaklukan Romawi yang saat itu dipimpin oleh Heraklius, Mesir oleh Muqauqis, Persia oleh Kisra, dan Mekah yang dikuasai oleh kaum kafir Quraisy, semua takluk bukan karena Islam yang memulai pertumpahan darah. Bahkan, umumnya terjadi karena mereka yang mulai melakukan penyerangan atau pun pembunuhan.

Untuk menjawab pertanyaan penting atau pun tuduhan banyak orientalis ini, maka tentunya dibutuhkan referensi yang terpercaya, terutama yang berkisah tentang sejarah Islam pada awal munculnya di kota Makkah hingga tersebar ke Persia, Mesir dan Romawi. Dan kebetulan penulis punya satu referensi yang layak dijadikan rujukan. Buku tersebut berjudul, “Asbabun Nuzul untuk Zaman Kita – Kisah Nyata di Balik Turunnya Ayat-Ayat Suci Al-Qur’an”. Buku ini merupakan terjemahn langsung dari kitab “Muwaaqif fi Hayaat al-Rasul Nazalat Fihaa Ayat Qur’aniyah dan Qashash Islamiyyah Nazalat fi Ashhabihaa Ayat Qur’aniyyah yang disusun oleh Fathi Fawzi Abd al-Mu’thi yang diterbitkan di Kairo Mesir.

Alasan paling mendasar mengapa buku di atas dipilih sebagai rujukan adalah karena setiap data nama dan waktu yang disebutkan dalam mengkisahkan turunnya Al-Qur’an dan sejarah perjuangan Islam di tahun-tahun dimana Islam baru berdiri betul-betul akurat dan terpercaya. Selain itu, catatan kaki dari setap tokoh dan peristiwa penting dijelaskan dengan begitu baik. Inilah sebabnya mengapa untuk menjawab apakah islam disebarkan dengan perang dan darah atau tidak, buku tersebut menjadi salah satu rujukan yang dipilih.

Argumen atas Pernyataan bahwa Cara Islam Disebarkan dengan Pedang dan Perang

Ada banyak sekali contoh kasus dalam sejarah yang bisa menjawab pernyataan keliru tentang Islam tersebut. Dan beberapa yang bisa kami sajikan:

Fathul Makkah

Pada suatu hari Rasulullah saw. duduk santai di masjid dengan ditemani dengan para sahabatnya, dan saat itu Hathib ibn Abi Balta’h juga termasuk di dalamnya, dan tak lama berselang mereka melihat ada seorang laki-laki dalam keadaan bergegas menghampiri mejelis Nabi saw. Tampak dari wajahnya ia baru melakukan perjalanan jauh, mukanya kusam, badannya bercucuran keringat,  dan juga pakainnya yang tampak berdebu. Sesampainya persis di hadapan Nabi saw., ia langsung berbicara dengan nada yang memelas, “Sesungguhnya kaum Quraisy telah mengkhianati janji mereka. Kaum Quraisy telah mengoyak ikatan sumpah antara mereka dan kalian (umat muslimin).”

Adapun laki-laki yang dimaksud adalah Amr ibn Salim yang merupakan keturunan bani Khazaah. Kedatangannya khusus untuk mengadukan pengkhianatan kaum kafir Quraisy ( termasuk Abu Jahal di dalamnya) yang telah melanggar prejanjian Hudaibiyah. Adapun duduk permasalahannya adalah karena Bani Bakar yang merupakan sekutu kaum Quraisy, bersama kaum Quraisy melakukan penyerangan kepada Bani Khazaah. Dan sesuai dengan aturan perang waktu itu, karena bani Khazaah adalah merupakan sekutu kaum muslim, maka Rasulullah saw. dan kaum muslim harus membalas tindakan keterlaluan kaum Quraisy kepada bani Khazaah tersebutkisah abdurrahman bin auf

Jadi, jelas sekali, dalam penggalan cerita ini menunjukkan bahwa terjadi suatu pelanggaran berat yang dilakukan oleh kaum kafir Quraiys yang mana mereka melakukan penyerangan pada sekutu Muslim yang sudah jelas-jelas sudah dilakukan perjanjian damai sebelumnya.

Nah, mendengar penuturan lelaki tersebut, Rasulullah saw. kemudian berusaha menenangkannya dengan berkata,  “Tenanglah, kami pasti akan segera menolong kalian, Amr ibn Salim.”

Akhirnya, setelah melakukan rapat dengan para sahabat kepercayaan Nabi saw., maka diputuskanlah untuk mempersiapkan pasukan tentara dalam jumlah besar untuk melakukan penyerbuan ke kota Makkah, yang mana selain untuk memberikan pertolongan kepada bani Khazaah, juga sekaligus untuk membebaskan Makkah dari pendudukan kaum kafir Quraisy yang selama ini melakukan penindasan, penyiksaan dan bahkan pembunuhan pada budak dan kaum-kaum lemah.

Bahkan, perlu dicatat, penyerbuan yang dilakukan oleh kaum muslimin waktu itu dilakukan dengan sangat rahasia agar tak ada satu pun orang Quraisy yang mengetahui rencana tersebut. Tujuannya, agar saat terjadi penaklukan (Fathul Makkah) tidak terjadi perlawanan yang berarti sehingga diharapkan tidak banyak dari warga muslim yang terluka. Walaupun, pada waktu itu di salah satu sisi kota tetap terjadi perlawanan, akan tetapi dengan mudah dikalahkan oleh sebagian panglima dan tentara muslim.

Mengenai peristiwa ini, tercatat pula dalam sejarah bahwa sebelum memasuki Makkah, Nabi memberikan himbauan pada pasukan muslim untuk tidak membunuh kecuali karena terpaksa harus membela diri.

Jadi sekali lagi, peristiwa Fathul Makkah yang merupakan penaklukan kota Makkah yang sekaligus untuk mematikan kekuatan kaum kafir Quraisy, sama sekali tidak dilakukan dengan semena-mena, bukan karena Islam waktu itu sudah besar dan punya kekuatan, tapi lebih karena ada perjanjian yang dilanggar, dan itupun dilakukan dengan penuh pertimbangan, yang mana serangan dilakukan dengan cara rahasia agar tak terjadi perlawanan yang bisa mengakibatkan jatuhnya banyak korban. Dan Anda tahu bahwa pada waktu itu dan beberapa tahun sebelumnya telah terjadi penindasan, penyiksaan dan pengusiran yang dilakukan oleh kaum kafir Quraisy, tapi setelah Islam mengambil alih kekuasaan mereka, mereka sama sekali tidak dibalas dengan penindasan dan pembunuhan sebagaimana yang telah dilakukan oleh mereka sebelumnya. Padahal jika kembali pada kisah muslim yang telah mengalami penyiksaan, sebut saja Bilal yang dijemur dan ditindih batu di atas panasnya padang pasir, Yasir dan Samiyah yang meregang nyawa akibat penyiksaan, dan masih banyak lagi, sungguh kisah pedih yang menyakitkan hati, tapi buktinya setelah itu sama sekali tidak dilakukan balas dendam. Dan bahkan, setelah Nabi saw. memasuki Makkah beliau menyerukan bahwa setiap orang berhak menentukan agamanya dan keyakinannya tanpa paksaan sama sekali.

Perluasan ajaran Islam ke daerah Romawi dan Persia

Artikel bagian ini masih proses penyususnan …..jadi belum bisa kami tunjukkan.

Penaklukan pada Masa Khalifah

Tak bisa dipungkiri bahwa pada masa pemerintahan Abbasiyah yang berlangsung cukup lama, khalifah silih berganti dari masa ke masa, dan tak dapat dipungkiri bahwa sebagian dari mereka ada yang baik da nada pula yang melakukan kezaliman, termasuk dalam hal perluasan wilayahnya juga bisa jadi ada oknum berlabel Islam yang melakukan sesuatu diluar dari yang diajarkan oleh Rasulullah Muhammad saw.

Namun, jika ditanya mengapa harus melakukan perluasan dan penaklukan? Tentu ini punya jawaban tersendiri. Suatu ilmu pasti bagi semua umat Islam bahwa Allah swt. adalah zat yang Mahatahu segala sesuatu. Demikian juga pemilihan waktu diutusnya Nabi Muhammad adalah waktu dimana masa penaklukan dari satu kerajaan pada kerajaan lain atau dari satu daerah pada daerah lain adalah sesuatu yang lumrah. Sehingga, jika terjadi penaklukan yang dilakukan oleh pasukan Muslim adalah sesuatu yang tidak menyalahi hukum perang dunia Arab dan sekitarnya yang sifatnya tidak tertulis waktu itu. Dan kenyataannya juga, Islam menunjukkan sesuatu yang berbeda dari apa yang dilakukan bangsa lain dimana penaklukan adalah hanya untuk mengambil alih kekuasaan tanpa menindas, sama sekali tidak meciptakan dunia perbudakan baru, tidak memaksa memeluk agama Islam dan segala yang buruk selalu dihindari. Ini terbukti dalam sejarah bahwa setiap kali Islam hendak menaklukkan suatu daerah maka terlebih dahulu diberikan himbauan untuk memeluk Islam atau pilihan lain tunduk dengan aturan dan bersedia membayar Jizyah atau pajak. Bila tidak mau, maka barulah dilakukan penaklukkan. Dan bila telah berhasil, semua orang hanya diajak memeluk Islam, selebihnya mereka bisa memilih antara menolak atau menerima yang mana mereka berhak memutuskan dan tanpa akibat apa pun atas keputusannya.

Sejarah dan juga hadits Nabi juga mencatat bahwa Nabi Muhammad sendiri dalam ajarannya selalu menganjurkan untuk menghargai setiap budak, bahkan anjuran untuk memerdekakan budak adalaah ajaran yang sangat ditekankan dalam Islam yang mana dilakukan dengan baik oleh Abu Bakr As-Shiddiq dan Abdurrahman bin Auf yang memerdekakan kurang lebih 30 budak setiap hari, bahkan tercatat sudah puluhan ribu budak yang ia merdekakan semasa hidupnya. Bahkan Nabi sendiri walau kedudukannya sebagai pemimpin umat Islam waktu itu tercatat pernah menikahi budak yang mana untuk orang terhormat waktu itu dinilai tidak baik dan merendahkan derajatnya. Ya, karena Islam tidak melihat orang dari kulitnya (pangkat, harta, jabatan dan nasab), tapi keimanan dan ketakwaannya. Hanya itu yang membedakan, selebihnya sama dimata Allah swt.

Demikian ringkasan artikel soal cara Islam disebarkan dengan pedang dan perang, apakah benar? Anda tentunya sudah punya gambarannya.  Jika dikatakan apakah Islam memerintahkan perang? Jawabnya tentu. Tapi bila dikatakan Islam mengajarkan kekerasan maka sudah pasti jawabnya ‘Tidak’. Karena dua kata tersebut memiliki arti yang berbeda. Perang bisa berarti pertahanan dan upaya menghentikan kekerasan, sedang kekerasan sifatnya negative dan terlarang.

About The Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *