Siapa saja sahabat Nabi yang dijamin masuk surga oleh Allah dalam hadis Rasulullah? Jawabannya, ada 10 sahabat yang dijamin masuk surga, di antaranya adalah Abu Bakar, Umar bin Khattab, Usman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Zubair bin Awwam, Abu Ubaidah, Abdurrahman bin Auf, Sa’ad bin Abi Waqqash, Thalhah, dan Sa’id bin Zaid. Mereka inilah yang mendapat kebahagiaan sebagai seorang yang akhiratnya sudah walau mereka belum meninggal. Tentunya, keputusan Allah swt. ini tanpa alasan. Selain mereka adalah golongan Assabiqunal Awwaluun, yakni orang-orang yang pertama masuk Islam pada masa Nabi, juga karena mereka memiliki sifat dan sikap yang terpuji yang melebihi sahabat Rasulullah yang lainnya.

Dari 10 sahabat nabi yang disebut di atas, Abu Ubaidah Amir bin Al-Jarrah adalah orang yang tak ikut hadir pada saat Nabi berada di atas gua Hira’, ketika waktu itu Gua Hira’ berguncang lalu Nabi bersabda dan menyebutkan bahwa 9 orang yang ada di atasnya adalah orang-orang yang suci, shiddiq dan syahid. Namun pada kesempatan lain rasulullah langsung menyebut namanya sebagai orang yang mendapat jaminan surga oleh Allah swt. Alangkah beruntungnya jika kita bisa seperti itu. Walau sebenarnya tidak mungkin, tapi menjadi satu dari 70 ribu orang yang bebas dari hisab masih bisa kita usahakan. InsyaAllah penulis Caraspot termasuk di antaranya!

Setelah di bawah, pastikan baca Kisah Abu Lahab

10 Sahabat yang Dijamin Masuk Surga

Dari sekian banyak sahabat yang kita kenal, ternyata hanya ada sepuluh yang mendapat jamin masuk surga. Tapi, ini bukan berarti bahwa yang tidak disebut namanya tidak akan masuk surga, seperti Ammar bin Yasir beserta ayah dan ibunya, Yasir dan Samiyyah, Fatimah, Aisyah, Salman al-Farisi yang berjasa dalam perang parit, dan masih banyak lagi sahabat nabi lainnya yang semuanya memiliki sifat terpuji. Nah, untuk yang disebut oleh Nabi langsung adalah sebagai berikut:

  1. Abu Bakar Ash-Shiddiq ra.
  2. Umar bin Khattab ra.
  3. Usman bin Affan ra.
  4. Ali bin Abi Thalib kaw.
  5. Zubair bin Awwam ra.
  6. Abu Ubaidah Amir bin Jarrah ra. (atau Abu Ubaidillah bin Jarrah)
  7. Abdurrahman Bin Auf ra.
  8. Thalhah Bin Abdullah ra.
  9. Sa’ad bin Abi Waqqas ra.
  10. Sa’id Bin Zaid ra.

Itulah 10 sahabat yang dimaksud. Kecuali Abu Abaidillah, ia tidak disebut saat peristiwa berguncangnya Gua Hira’ karena beliau tidak ada disitu waktu itu. Namun, dalam riwayat lain sepuluhnya langsung disebut.

Simak dulu : Adab berdoa dan cara berdoa agar cepat dikabulkan

Hadis yang meriwayatkan 10 Sahabat di atas:

Ada banyak sekali yang meriwayatkan hadits tentang ini, walau sanad dan redaksinya berbeda, tapi maksudnya sama.

حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ مَنِيعٍ حَدَّثَنَا هُشَيْمٌ أَخْبَرَنَا حُصَيْنٌ عَنْ هِلَالِ بْنِ يَسَافٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ ظَالِمٍ الْمَازِنِيِّ عَنْ سَعِيدِ بْنِ زَيْدِ بْنِ عَمْرِو بْنِ نُفَيْلٍ أَنَّهُ قَالَ أَشْهَدُ عَلَى التِّسْعَةِ أَنَّهُمْ فِي الْجَنَّةِ وَلَوْ شَهِدْتُ عَلَى الْعَاشِرِ لَمْ آثَمْ قِيلَ وَكَيْفَ ذَلِكَ قَالَ كُنَّا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِحِرَاءَ فَقَالَ اثْبُتْ حِرَاءُ فَإِنَّهُ لَيْسَ عَلَيْكَ إِلَّا نَبِيٌّ أَوْ صِدِّيقٌ أَوْ شَهِيدٌ قِيلَ وَمَنْ هُمْ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَبُو بَكْرٍ وَعُمَرُ وَعُثْمَانُ وَعَلِيٌّ وَطَلْحَةُ وَالزُّبَيْرُ وَسَعْدٌ وَعَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ عَوْفٍ قِيلَ فَمَنْ الْعَاشِرُ قَالَ أَنَا قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ وَقَدْ رُوِيَ مِنْ غَيْرِ وَجْهٍ عَنْ سَعِيدِ بْنِ زَيْدٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ مَنِيعٍ حَدَّثَنَا الْحَجَّاجُ بْنُ مُحَمَّدٍ حَدَّثَنِي شُعْبَةُ عَنْ الْحُرِّ بْنِ الصَّيَّاحِ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ الْأَخْنَسِ عَنْ سَعِيدِ بْنِ زَيْدٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَحْوَهُ بِمَعْنَاهُ قَالَ هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ

Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Mani’ telah menceritakan kepada kami Husyaim telah mengabarkan kepada kami Hushain dari Hilal bin Yasaf dari Abdullah bin Dlalim Al Mazini dari Sa’id bin Zaid bin ‘Amru bin Nufail bahwa dia berkata; “Saya bersaksi terhadap sembilan orang yang mereka telah dijamin masuk surga dan sekiranya aku bersaksi terhadap sepuluh orang, maka aku tidak akan berdosa.” Dikatakan; “Bagaimana bisa begitu?.” Dia menjawab; “Kami pernah bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di (goa) Hira’, lalu beliau bersabda: “Tenanglah wahai (goa) Hira’, tidaklah orang yang ada di atasmu melainkan seorang Nabi, shiddiq (jujur) atau orang yang syahid.” Dikatakan; “Siapakah mereka?” Dia menjawab; (mereka adalah) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, Thalhah, Zubair, Sa’ad dan Abdurrahman bin ‘Auf.” Dikatakan; “Siapa yang kesepuluh?” Dia menjawab; “Saya.” Abu Isa berkata; “Hadits ini adalah hadits hasan shahih.” Dan hadits ini telah diriwayatkan pula dari beberapa jalur dari Sa’id bin Zaid dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.” Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Mani’ telah menceritakan kepada kami Al Hajjaj bin Muhammad telah menceritakan kepadaku Syu’bah dari Al Hurr bin Ash Shayyah dari Abdurrahman bin Al Akhnas dari Sa’id bin Zaid dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam seperti hadits di atas secara maknanya, dia berkata; “Hadits ini adalah hadits hasan.”

(Sumber Hadis dari Lidwa : Kitab Tirmidzi, Kitab : Budi pekerti yang terpuji, Bab : Biografi Said bin Zaid bin Amru bin Nufail Radhiyallahu’anhu, No. Hadist : 3690) Nomor hadis bisa saja berbeda, tergantung penerbitnya.

Pada hadits di atas tampak bahwa Abu Ubaidillah tidak disebut karena peristiwa terjadi beliau mungkin tidak ada disana, dan memang Nabi waktu itu Nabi tidak menyebut nama mereka dan hanya diceritakan keadaannya oleh Sa’id bin Zaid. Bahkan Rasulullah saw. adalah termasuk dari mereka.

Khusus pada hadis di bawah Rasulullah saw. Secara langsung menyebut siapa kesepuluh sahabat nabi yang dimaksud.

حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْعَزِيزِ بْنُ مُحَمَّدٍ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ حُمَيْدٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَوْفٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَبُو بَكْرٍ فِي الْجَنَّةِ وَعُمَرُ فِي الْجَنَّةِ وَعُثْمَانُ فِي الْجَنَّةِ وَعَلِيٌّ فِي الْجَنَّةِ وَطَلْحَةُ فِي الْجَنَّةِ وَالزُّبَيْرُ فِي الْجَنَّةِ وَعَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ عَوْفٍ فِي الْجَنَّةِ وَسَعْدٌ فِي الْجَنَّةِ وَسَعِيدٌ فِي الْجَنَّةِ وَأَبُو عُبَيْدَةَ بْنُ الْجَرَّاحِ فِي الْجَنَّةِ . أَخْبَرَنَا أَبُو مُصْعَبٍ قِرَاءَةً عَنْ عَبْدِ الْعَزِيزِ بْنِ مُحَمَّدٍ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ حُمَيْدٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَحْوَهُ وَلَمْ يَذْكُرْ فِيهِ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَوْفٍ قَالَ وَقَدْ رُوِيَ هَذَا الْحَدِيثُ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ حُمَيْدٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ سَعِيدِ بْنِ زَيْدٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَحْوَ هَذَا وَهَذَا أَصَحُّ مِنْ الْحَدِيثِ الْأَوَّلِ

Telah menceritakan kepada kami Qutaibah telah menceritakan kepada kami Abdul Aziz bin Muhammad dari Abdurrahman bin Humaid dari ayahnya dari Abdurrahman bin ‘Auf dia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Abu Bakar masuk surga, Umar masuk surga, Utsman masuk surga, Ali masuk surga, Thalhah masuk surga, Zubeir masuk surga, Abdurrahman bin ‘Auf masuk surga, Sa’ad masuk surga, Sa’id masuk surga dan Abu Ubaidah bin Jarrah masuk surga.” Telah mengabarkan kepada kami Abu Mush’ab dengan bacaan dari Abdul Aziz bin Muhammad dari Abdurrahman bin Humaid dari ayahnya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam seperti di atas, namun dia tidak menyebutkan di dalamnya dari Abdurrahman bin ‘Auf. Perawi (Abu Isa) berkata; “Dan hadits ini juga diriwayatkan dari Abdurrahman bin Humaid dari ayahnya dari Sa’id bin Zaid dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam seperti hadits di atas, dan hadits ini lebih shahih dari hadits yang pertama.”

(Sumber (versi software Hadis Lidwa): Tirmidzi, Kitab : Budi pekerti yang terpuji, Bab : Biografi Abdurrahman bin Auf azzuhri Radhiyallahu’anhu, No. Hadist : 3680) – Khusus nomor hadisnya mungkin akan berbeda jika penerbitnya juga beda.

Profil Sepuluh Sahabat Nabi yang Dijamin Masuk Surga

Kalau di atas hanya menyebut namanya, nah di bawah ini dijelaskan lengkap kisah, cerita dan profil lengkapnya yang banyak tercatat dalam sejarah, terutama dalam kisah Asbabun Nuzul Al-Qur’an.

1. Abu Bakar Ash-Shiddiq ra.

Abu Bakar adalah satu dari sepuluh sahabat Nabi yang dijamin masuk surga yang namanya paling pertama disebut. Tentunya, urutan penyebutan nama tersebut punya arti tersendiri, dan yang paling tepat adalah karena keutamaan dari masing-masign sahabat tersebut.

Antara Rasulullah dan Abu Bakr As-Shiddiq memang terjalin persahabatan yang sangat erat, sehingga Nabi sendiri pernah bersabda yang redaksinya kurang lebih seperti ini: Seandainya saya (Nabi) diberi pilihan untuk memiliki kekasih, maka Abu Bakar lah yang menjadi kekasihku, hanya saja yang ada hanyalah hubungan persaudaraan sesama muslim.

Dalam banyak hal Abu Bakar juga memiliki keutamaan yang lebih dibanding yang lainnya, misalnya beliu pernah mendermakan semua hartanya tanpa tersisa sedikit pun sehingga ditegur oleh Nabi mengenai apa yang ia sisakan untuk keluarganya, sehingga Abu Bakar pun berkata bahwa anak dan istrinya telah ia titipkan pada Allah swt. (maksudnya dalam hal kebutuhan hidup mereka).

Laqab atau julukan As-Shiddiq juga punya latarbelakang tersendiri, yakni ketika kaum Quraisy menertawakan dan tidak percaya terhadap berita Isra’ dan Mi’raj Nabi saw. yang terjadi hanya dalam semalam dari Makkah ke Baitul Maqdis dan dari Baitul Maqdis ke Sidratul Muntahaa, namun Abu Bakar adalah orang yang paling membenarkan ucapan Nabi waktu itu, setelah ia meminta kepada Nabi untuk mensifatkan Baitul Maqdis kepadanya karena ia juga pernah datang di sana. Dan sejak itulah ia diberi nama ‘Ash-Shiddiq’ yakni ‘orang yang membenarkan’.

Jika diurut dari awal,mulai Abu Bakar masuk Islam hingga iawafat ada banyak sekali sifat-sifat agungnya yang telah tercatat dalam tinta emas sejarah awal munculnya Islam. Beberapa yang patut kita ingat adalah seperti partisipasi Abu Bakar dalam mendakwahkan Islam pada sahabat-sahabatnya agar mengikuti jalannya masuk Islam,  bantuannya dalam membantu kaum muslimin yang lemah, terutama dalam memerdekakan budak seperti Bilal dan lainnya, membantu pelarian Nabi dari kejaran pemuda Quraisy yang ingin membunuh Nabi, jasanya dalam memberi hukuman pada orang yang tidak mau membayar zakat, memerangi kaum murtad dan juga usahanya membukukan Al-Qur’an.

Coba dandingkan beliau di atas dengan Kisah Abu Jahal ini. Sungguh bagai antara langit dan bumi sifatnya.

2. Umar bin Khattab ra.

Umar bin Khattab dikenal sebagai pribadi yang adil, bijaksana dan rendah diri. Sekalipun ia sebagai seorang khalifah, ia tak pernah mau menampakkan kebesaran dirinya di hadapan banyak orang. Ketika tentara Islam berhasilmengepung kota Al-Quds dan panglima kota tersebut tak mau menyerahkan kota tersebut kecuali khalifah Umar sendiri yang datang, maka dijemputlah beliau di luar kota dan sebagai gantinya akan diberikan pakaian dan kuda terbaik, namun saat menaiki kuda  tersebut dan merasa menampakkan kegagahannya, akhirnya ia turun dari kuda tersebut karena ia merasa dalam hatinya bersarang sikap sombong. Beliau teringat dengan sabda Nabi bahwa tidak akan masuk surga seseorang yang dalam hatinya terdapat seberat biji sawi dari sifat kesombongan.

Umar bin Khattab yang menjadi satu dari 10 sahabat yang dijamin masuk surga ini mempunyai kebiasaan terjaga di malam hari. Pernah suatu ketika ada utusan dari Irak yang menyempatkan singgah di Masjid pada malam hari, kemudian ia ditemui oleh umar (sedang orang tersebut belum mengetahui siapa orang yang menemuinya tersebut) dan menceritakan perihal kedatangannya yang akhirnya dikatakan kepadanya, “Mengapa tuan tidak pergi menemui khalifah dan memberi kabar kepadanya?” Orang tersebut lantas berkata, “Apakah dapat menemuinya saat malam begini?” Jawab Umar, “Saya ini Umar!”. Kemudian Umar berkata, “Jika saya tidur di malam harimaka berarti saya menyia-nyiakan diri saya, dan jika saya tidur di siang hari berarti saya mengabaikan umat.”

Sikap mulia lain dari sosok Umar bin Khattab yang menjadikannya layak menjadi orang yang dijamin masuk surga adalah diantaranya ia pernah memerintahkan anaknya menikahi seorang wanita sederhana karena iapernah lewat di depan rumahnya dan tanpa sengaja mengetahui bahwa ia menolak perintah ibunya untuk mencampur susu dengan air, beliau juga menghukum Amru bin Ash dan anaknya karena menganiaya rakyat kecil, memberikan hukuman yang setimpal pada raja Ghassan yang menampar rakyat biasa  dan masih banyak lagi sikap mulia beliau yang tercatat dalam sejarah.

3. Usman bi Affan ra.

Sebagai seorang Khalifah ketiga setelah Umar bin Khattab, Usman bin Affan dikenal memiliki budi pekerti yang mulia, walau dikatakan bahwa beliau juga punya sifat yang sangat memperhatikan hubungan kekeluargaan.

Keutamaan yang dimilikinya sehingga dinobatkan sebagai satu dari sepuluh sahabat nabi yang dijamin masuk surga adalah di antaranya ia pernah menyumbangkan hartanya untuk membeli sumur seorang Yahudi untuk disumbangkan secara cuma-cuma kepada kaum muslimin karena pada waktu itu orang-orang sedang mengalami kekeringan.

Pernah juga, pada saat akan terjadi perang Tabuk, kaum muslimin sedang dalam kekurangan anggaran untuk berperang, hingga akhirnya Usman sendiri yang mempersiapkan pasukan tersebut dengan anggaran dari uang pribadinya. Begitu juga, ketika di kota Madinah pasar-pasar menjadi kekurangan pasokan bahan makanan sedang Usman bin Affan memiliki banyak muatan barang dagangan dari Syam, maka datanglah para pedagang untuk membeli barang-barangnya, akan tetapi sekalipun ditawar dengan harga tinggi ia tetap menolak tawaran pedagang tersebut, dan berkata bahwa Allah swt. bisa memberinya 10 kali lipat dari tawaran mereka. Akhirnya, Usman pun memilih membagi-bagikan hartanya tersebut kepada kaum muslimin tanpa menjualnya.

4. Ali bin Abi Thalib kaw.

Banyak sekali keistimewaan yang dimiliki oleh Ali bin Abi Thalib sehingga menjadikannya sebagai satu dari 10 sahabat yang dijamin masuk surga, yaitu karena beliau terkenal sebagai orang yang memiliki pendirian yang kuat, sopan santun, lapang dada, lisannya fasih dan hatinya pun bersih. Oleh Nabi saw. beliau dijadikan sebagai saudara se-muslim.

Kutamaan Ali semakin jelas ketika ia bersedia menggantikan Nabi di tempat tidurnya, karena waktu itu Nabi hendak dikepung oleh pemuda-pemuda Quraisy yang ingin membunuhnya. Beliau sama sekali tidak takut dan gentar menjadi tameng nabi , walau bahaya dapat saja menimpanya. Itulah sebabnya kisahnya diabadikan dalam salah satu ayat Al-Qur’an, yakni pada surah Al-Baqarah ayat 207.

Pernah suatu ketika Ali bin Abi Thalib sedang melaksanakan nazarnya (berpuasa 3 hari) karena dua putranya bisa sembuh dari penyakitnya, namun beliau karena kedermawanannya, walau tak punya banyak makanan waktu itu, tetap memberikan makananya pada orang yang meminta, mulai dari hari pertama hingga hari ketiga ia menjalankan puasa. Inilah salah satu kisah kedermawanan beliau yang diabadikan banyak buku sejarah dan juga sanjungan dari Allah yang juga diabadikan dalam surah An-Nisa ayat 7-12.

Imam Ali kaw. Juga pernah didatangi seorang peminta-minta sedang ia sedang salat, sehingga walau dalam keadaan salat beliu dengan segera memberikan cincin peraknya pada peminta-minta tersebut, tanpa menunggu salatnya selesai.

Dalam hal keilmuan, beliau sudah diakui banyak sahabat Nabi, termasuk Aisyah ra. yang berkata, “Sungguh Ali adalah orang yang sangat luas pengetahuannya tentang Sunnah.” Ya, ini karena selama hidupnya selalu bersama Nabi, bahkan hingga Rasulullah saw. wafat. Dan adapun Umar ra., beliau juga pernah berkata, “Imam Ali adalah seorang ahli hukum peradilan. Seandainya Ali tidak ada, tentulah Umar akan hancur.”

Selingan… : Astronom Muslim di Dunia dan Karyanya

5. Zubair bin Awwam ra.

Zubair dikenal sebagai orang yang memiliki nasab terpandang karena ayahnya sendiri merupakan saudara kandung Khadijah, istri Nabi saw. Sedang ibnya sendiri, yaitu Shafiyah binti Abdul Muthalib merupakan bangsawan terhormat dari Bani Hasyim.

Sebelum masuk Islam, Zubair bin Awwam sudah dikenal sebagai orang yang memiliki watak keras dan menakutkan bila marah.

Suatu ketika Zubair mendengar kabar bahwa Nabi saw. telah wafat, maka dengan segera ia menuju kota Makkah sambil menghunuskan pedangnya dan mengucapkan kata-kata yang menakutkan orang-orang disekitarnya.  Dan karena Nabi ternyata dalam keadaan sehat dan melihat tindakannya aneh, maka ia pun ditanya oleh Nabi. Ia pun lalu menceritakan kejadian sebenarnya. Maka pada waktu itu, Rasulullah saw. pun mendoakannya dan tak ketinggalan pada pedang yang dibawanya.

Karena keimanannya yang betul-betul jernih, pada perang Badar, malaikat yang memberikan bantuan kepada tentara muslim juga mengenakan syurban berwarna kuning yang sama dengan yang digunakan oleh Zubair bin Awwam yang mana hal itu sebagai tanda  kehadiran mereka. Pada perang tersebut beliau berperang dengan gagah berani dan membunuh banyak musuh, sehingga pedangnya menjadi tumpul . Walau begitu, ia hanya mendapat sedikit luka.

Sungguh wajar jika Zubair termasuk dari sepuluh sahabat Nabi yang dijamin masuk surga. Mengapa tidak? Beliau dikenal sebagai satu-satunya sahabat yang tidak pernah mangkir mengikuti peperangan yang dilakukan oleh Rasulullah saw. Di setiap peperangan ia selalu maju pantang mundur menghadapi lawan. Itulah sebabnya mengapa pada tubuhnya terdapat banyak bekas luka yang menjadi tanda jasa perjuangannya.

Bukan hanya pada masa Nabi, pada masa khalifah Abu Bakar ra. beliau juga menjadi panglima dalam perang Yarmuk dan memperoleh kemenangan waktu itu. Dalam sejarah juga tercatat bahwa beliulah yang berhasil menaklukkan Babilon setelah 7 bulan melakukan penyerangan. Ya, berkat inisiatif beliau sendiri untuk melakukan penyerangan sendiri dengan cara memanjat pada tembok benteng lawan bersama para pasukannya. Dan masih banyak lagi kisah keberanian beliau.

6. Abu Ubaidah Amir bin Al-Jarrah ra. / Abu Ubaidillah

Walau pada riwayat mengenai saat berguncangnya Gua Hira’ dan Nabi bersabda mengenai 10 keutamaan orang yang berada di dekatnya, termasuk Nabi sendiri, Abu Ubaidah tidak disebut, akan tetapi, pada riwayat lain nama Abu Baidah pun disebut sebagai salah satu dari 10 sahabat yang dijamin masuk surga.

Sahabat Nabi, Abu Abaidah, juga dikenal sebagai pribadi yang sabar dalam menghadapi segala musibah dan kesulitan. Selain itu kepercayaannya pada Nabi saw. juga begitu besar. Saat sebagian umat muslim yang masih lemah imannya keluar dari Islam karena tidak percaya dengan peristiwa Isra’ dan Mi’raj Nabi, Abu Ubaidah malah semakin teguh imannya, ia sama sekali tak meragukan sedikit pun apa yang disampaikan oleh Rasulullah saw.

Salah satu keutamaan dari Abu Ubaidah yang juga diabadikan dalam Al-Qur’an adalah mengenai kisahnya dalam perang Badar. Saat perang berlangsung ia tanpa sengaja bertemu dengan ayahnya yang saat itu berada di pihak kaum kafir Quraisy.Namun, karena ia tidak ingin membunuh ayahnya, akhirnya ia berusaha menjauh darinya. Tapi, tak lama setelah itu ia berhadapan lagi dengan ayahnya. Dan ia tetap melakukan hal yang sama, yakni menjauh darinya. Hal ini terulang hingga tiga kali. Hingga, karena ia tak bisa lagi mengelak , akhirnya  peristiwa yang tidak diinginkannya pun terjadi,  yang mana ia akhirnya membunuh ayahnya sendiri di medang perang. Ini karena ia sama sekali tak menemukan jalan lain kecuali membunuhnya. Dan setelah peristiwa tersebut maka turunlah ayat 22 surah Al-Mujadilah.Dan setelah mendengar ayat ini, Abu Ubaidah pun akhirnya merasa tentram.

Dalam kisah perang Uhud, Abu Ubaidah juga tercatat sebagai salah satu tameng hidup Nabi ketika kaum kafir Quraisy berusaha untuk menyerang Nabi saw. Saat dua gigi nabi (gigi di sebelah gigi serinya) patah karena terkena lemparan batu, maka Abu Ubaidahlah yang berusaha mencabut batu tersebut, walau pada akhirnya gigi Nabi pun pecah-pecah akibat lemparan batu tersebut. Sehingga tak berlebihan kiranya jika beliau dijadikan sebagai 10 sahabat Nabi yang dijamin masuk surga oleh Nabi saw. berkat izin Allah swt.

Pada masa kekhalifahaan, setelah wafatnya Nabi saw., Abu Ubaidah juga termasuk sahabat Nabi yang dicalonkan sebagai khalifah, namun beliu menolak jabatan tersebut karena menganggap bahwa Abu Bakarlah yang lebih berhak untuk jabatan tersebut.

Ketika masa Khalifah Abu Bakar ra, Abu Ubaidah juga tercatat diangkat sebagai panglima perang pada salah satu angkatan perang waktu itu. Dan setelah Umar yang menjadi Khalifah, ia kemudian diangkat sebagai panglima tertinggi menggantikan Khalid bin Walid yang kemudian ia berhasil menaklukkan bangsa Rum dalam perang Yarmuk.

Dalam hal kemampuan perang Abu Ubaidah juga dikenal sebagai sahabaat Nabi yang pandai dalam menjalankan taktik perang. Terbukti ketika melakukan serangan dan pengepungan pada kota Ladzaqiah, salah satu kota bangsa Romawi yang bentengnya kuat dan sulit ditembus, yang mana pada waktu itu telah dilakukan penyerangan selama beberapa bulan namun tak membuahkan hasil kemenangan sama sekali. Hingga akhirnya, setelah Abu Ubaidah menyendiri sehari di dalam kemahnya memikirkan hal tersebut, maka ia kemudian memutuskan untuk  melakukan taktik perang dengan menggali parit besar sebagai tempat bersembunyi pasukan berkuda dan kuda-kudanya. Hal itu dilakukan di malam hari agar tak diketahui pihak musuh.

Setelah berhasil membuat parit tersebut dan bersembunyi di dalammya serta semua bekas-bekas perkemahan dibersihkan., akhirnya pada hari berikutnya bangsa Romawi yang tak melihat mereka lagi bergembira dan mulai membuka gerbang-gerbangnya. Para petani muali beraktifitas dan semua warganya juga. Tapi keadaan itu tak berlangsung lama karena tentara muslim langsung keluar dan menuju gerbang benteng tersebut yang pada akhirnya mereka memenangkan perang dan bangsa Rum akhirnya menyerah dan mengaku kalah.

Akhirnya, setelah menaklukkan banyak  daerah dan pindah ke Palestina, ia terkena wabah Thaum di sana. Di kota tersebut ia meninggal dunia. Ini karena ketika beliau diminta meninggalkan kota tersebut ia menolak karena tidak mau meninggalkan pasukannya hanya karena untuk menyelamatkan dirinya sendiri.

Masih ada beberapa dari 10 Sahabat yang dijamin masuk surga yang belum kami jelaskan. Silahkan baca selengkapnya di sini : Abdurrahman Bin Auf ra., Thalhah Bin Abdullah ra., Sa’ad bin Abi Waqqas ra., dan Sa’id Bin Zaid. Semoga kisah mereka bisa menginspirasi Anda.

About The Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *